Ini cerita kami, diantara hawa dingin yang menusuk tulang, ketika kaki mencoba menjejaki setiap jengkal tanah menuju puncak Bae. Cerita yang telah membuat pikiran tentang kemewahan kehidupan
Kalian boleh menyebut ini kisah atau cerita, tapi yang pasti jangan katakan ini dongeng karena keringat kami berani bersaksi atas nama angkuhnya hidup manusia. Aku tak tau harus memulainya darimana, mungkin dari ruang kumuh yang berada diantara pagar kesombongan fakultas hukum atau juga dari pintu rimba yang menyambut kami dengan gemercik nyanyian sungai di pedalaman Jantho,
Kumulai saja cerita ini dari suatu senja di hari jumat, 31 oktober 2008, ketika kami meninggalkan kampus menuju Jantho unutuk suatu ritual yang banyak orang bilang tak berarti atau buang-buang energi. Ada aku, Jalak, Banenk, Pane Amroe, Pojan, Ihsan Badak serta Ketua Umum Mapala Hukum, Geraldi Farizi. Subtansi dari cerita ini adalah try out navigasi bagi angkatan baru Mapala Hukum, yang merupakan agenda rutin dari Mapala Hukum dengan tujuan untuk memperdalam ilmu navigasi bagi angkatan baru khususnya dan bagi seluruh anggota umumnya.
Syafaq merah di ufuk barat sudah lenyap ketika kami memasuki perkampungan terakhir di kaki Bukit Barisan, yaitu kampung Jantho Baru. Langsung saja ketua tim kami, Banenk, menuju kerumah empunya kuasa dikampung tersebut yaitu keuchik Jantho Baru untuk meberiyahukan kegiatan kami, hal ini merupakan etika bagi kami memasuki daerah orang karena kami masih memegang prinsip dimana langit dijunjung disitu bumi dipijak. Setelah semua proses administrasi lokal selesai
Tak mungkin menunggu lama lagi, kami langsung berangkat ke kamp pertama, yaitu di damp aliran sungai yang membelah air untuk pengairan petani disana, kmai juga menyebut tempat ini dengan pintu rimaba, karena disinilah awal cerita tentang rimbunnya hutan dimulai. Dari rumah terakhir sampai kepintu rimba menghabiskan waktu sekitar setengah jam, kami lalui perjalanan dalam pekatnya malam dengan bermodalkan senter yang tak seberapa terangnya. Sampai dipintu rimba jam 08.00 wib langsung mendirikan tenda serta kesibukan lainnya untuk mempersiapkan makam malam.
Selepas makan, sempat briefing sebentar. Kemudian, kami habiskan malam dengan celotehan demi celotehan, dari Aceh sampai Papua, dari cinta sampai kelaparan, sampai tenda memanggil kami untuk menjamahnya demi simpanan tenaga untuk hari esok yang penuh tanda tanya. Tak usah kukabarkan berita diluar tenda ketika kami terlelap, karena itu urusan penghuni malam di kaki bukit barisan.
Sabtu, 1 November 2008, pagi yang dingin dan udara yang sejuk. Tenda sudah basah oleh gerimis semalam ketika jam 07.00 WIB aku dan pojan bangun untuk mempersiapkan segalanya, yang terutama adalah menyiapkan sarapan demi secuil tenaga untuk melakukan pendakian. Tak usah juga kukabarkan apa yang kamai makan, karena semua yang masuk ke lambung adalah rahmat dari-Nya.
Tepat jam 10.00 WIB kami mulai melangkahkan kaki meninggalkan pintu rimba, setelah sebelumya ngeplot peta, menapaki setiap jejak dibawah rerimbunan rimba, diantara kicauan burung dan siulan sungai yang semakin lama semakin tak terdengar terhijab oleh ruang dan waktu dalam skala yang selalu berubah. Tiga puluh menit kemudian kami sampai di pangkalan air terakhir, disinilah kami mengambil air untuk bekal selama dua hari sampai pulang besok. Setelah ini tak ada lagi sumber air bersih selain air untuk survive yang biasa banyak tersedia di setiap benda yang ada di rimba.
Hampir seluruhnya jalur menuju puncak Bae terjal sampai kemiringan 80 derajat. Perlu fisik dan memtal yang kuat pastinya untuk menempuh tantangan ini, bila tak hati-hati fatal akibatnya, karena jurang selalu siap menerima kita apa adanya. Tak terhitung sudah para pendaki menyerahkan nyawanya pada alam dikarenakan kecerobohan yang dilakukannya dan tentunya kesombongan yang dibawanya. Fenedick Ribery tewas mengenaskan di puncak Annapurna pegunungan
Setelah siap makan siang, jam 02.00 WIB kami lanjutkan pendakian. Tak lama berselang, kami memasuki perkampungan rotan, dengan perangkap durinya yang selalu mengintai. Seakan ingin memaki para duri, aku bahkan harus menerima tebasan duri rotan di leher, tapi tenang aja, tidak sampai mengganggu pendakian kok!. Setelah melewati perkampungan rotan sekitar dua jam, kabut dan badai serta gerimis mulai menyelimutu perjalanan kami. Perlahan-lahan mulai gelap, walau senja belum sepenuhnya berganti malam. Sampai pada akhirnya tepat ketika syafaq merah bertahta di ufuk barat, kami dapat menjamah pilar Bae. Inilah jamahan Mapala Hukum yang pertama di puncak Bae, selain ketua tim, Banenk, yang pernah menjamah pilar tersebut sebelumnya.
Dengan suhu dingin berada di angka 13 derajat celcius, kami tak bertahan lama untuk terus mendirikan tenda dan mengganti pakaian dengan yang lebih hangat, walau hawa dingin masih bisa menyelinap diantara jejaring tulang kami. Dan yang paling penting adalah membuat api unggun, walau dengan kondisi tempat yang berair dan dingin amat susah untuk membuat api unggun.
Seperti malam sebelumnya, selepas makan tak ada lagi kewajiban kami selain bercengkrama bersama, dengan celotehan-celotehan garing Pane Amroe diselingi cekikan riang Ihsan Badak, aku juga hanya bisa ikut tertawa dengan sesekali menimpali. Inilah celoteh kami, yang tanpa intrik telah mengertikan kami akan arti kesederhanaan, yang tanpa munafik telah menjadikan basa basi menjadi basi. Ditemani kopi secangkir, hawa dingin, suara angin di ketinggian diatas 1500 mdpl, seperti ada kehidupan lain diatas kabut malam. Laksana gemuruh para serdadu dari dalam kabut yang ingin menyerbu singgasana di puncak Bae.
Tak usah lagi kusambung tentang malam, biarkan kurawi tentang pagi sampai siang yang tak bermentari apalagi
Selepas makan siang, tepat jam 12.00 kami melangkah turun setelah sebelumnya meangabadikan beberapa momen untuk berbagi cerita dengan saudara yang tak ikut dalam perjalanan ini, termasuk cerita yan kususun kepada kalian disini. Tak sampai setengah jam kami menapaki tanah rimba Bae, tragedi terjadi, Tersesat!. Tapi aku tak akan bercerita tentang sesatnya kami di rimba tuhan tak bertuan itu, kalau kalian mau lebih tau datang aja ke ruang yang tak seberapa di kampus kami, pasti cerita sesat itu akan mengisi indera dengar kalian.
Setelah letih mencari jalan keluar selam dua jam, sang jalanpun berbaik hati dengan menampakkan wujudnya didepan kami, tanpa ba bi bu lagi dengan legowo kami turuni puncak Bae walau betis terasa hancur, walau tulang terasa remuk, sampai akhirnya jam 06.00 wib kami dapat mendengar dan melihat gemercik air sungai Jantho. Walau lelah, letih, bahkan sampai tubuh yang tersayat duri rotan, tapi yang pasti, seperti kata Bang Wan Fals, diantara mata air ini tak pernah ada air mata.
Syafaq merah bertahta di ufuk barat, kami perlahan merayapi perbukitan indah sebelum memasuki kampung Jantho Baru. Kampung yang adem, ayem, teduh, damai dan entah apa lagi yang bisa kuucapkan untuk kampung tersebut, walau setan-setan industrialis terus mengintai kampung tersebut. Bagi kawan-kawan angkatan 2006 keatas pasti punya cerita di bukit kampung itu, karena dulunya diperbukitan kampung Jantho Baru ini ritual peusijuk mahasiswa baru angkatan 2006 dilaksanakan.
Setelah mengambil kenderaan dan memberitahukan kepulangan kami kepada keucik setempat, jam 08.00 wib kami memasuki
Salam Lestari .. !!