9 Jun 2009

Kami Tak Lupa

Peluru dari senjata yang kau nyalakkan masih bersarang di tubuh dekilnya. Kau tau, itu satu dari sekian puluh belas timah panas yang kalian sarangkan.

Jika nanti ia bangun dari tidur panjangnya, akan aku ceritakan semuanya tentang kalian, yang angkuh, sombong, dan sedikit lebih biadab di kampung tua ini. Kampung yang telah kalian banjiri darah penghuninya, kampung yang telah kalian isakkan tangis penghuninya, dan juga kampung yang telah mengajari kami bagaimana cara bertahan hidup dan terus melawan.

Ketika para hulu hulu dan balang balang melepas kepergian kalian di dermaga itu, kami berkumpul di surau ini untuk melafazkan sepatah syukur kepada Rabb. Menyisir setiap tanah yang kalian tempati mencari seonggok daging saudara kami yang mungkin masih tersisa, walau yang kami dapat cuma selinting tulang seluntang belulang. Tapi ingat, kami tidak melupakannya.

Kami tak lupa, dan takkan pernah lupa..
Pada kalian yang datang tanpa permisi ke kampung yang telah menyumbang nyawa untuk pondasi negara ini.
Kami tak lupa, dan takkan pernah lupa..
Ketika subuh kalian bariskan warga kami di Kuala Pudeng, hingga peluru yang kalian tumpahkan bersarang di tubuh dekil saudara kami.
Kami tak lupa, dan takkan pernah lupa..
Juga pada mereka yang tersenyum di gedung megah ketika peluru kalian menyalak. Mereka yang selalu menjilat, hingga kalian pulangpun dermaga penuh dengan jilat lidah melintah. Sekarangpun, retorika demi retorika menghiasi surat kabar negeri ini, seakan ingin kalian katakan pada kami bahwa kalian adalah pejuang.

Ingat, kami tak lupa dan takkan pernah lupa..



Suboh Buta, 2 Juni 2009
Muhajir Pemulung
Saleum..

0 komentar: