Sejak Rektorat Unsyiah menetapkan SPP untuk mahasiswa Unsyiah tahun 2009 dengan SK Rektor Nomor 472 Tahun 2009, Mahasiswa semakin gundah dengan kenaikan biaya SPP yang melambung dan mencekik leher ureung ciek. Hari terus berlalu tanpa ada pihak yang menggugat kondisi tersebut walau PEMA sekalipun yang notabene merupakan lembaga penyuara aspirasi mahasiswa.
Berkaca dari kondisi tersebut, kawan-kawan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi BEM Fakultas di antaranya BEM Fakultas Pertanian, BEM Fakultas KIP, BEM Fakultas Ekonomi, dan Keluarga Besar Mahasiswa Fakultas Hukum mencoba menepis sedikit kegalaum mahasiswa dengan melakukan aksi demonstrasi menolak SPP Mahasiswa yang didasarkan pada beberapa kondisi dan poin-poin dalam SK tersebut yang tidak jelas alias siluman. Dari aksi tersebut maka dihasilkan sebuah kesepakatan dengan pihak rektorat bahwa pihak rektorat mengakui kesalahan (rektorat menyebutnya kekeliruan) dalam SK tersebut yaitu penutipan dana tambahan untuk mahasiswa angkatan 2007 ke bawah.
Dalam hal ini penulis melihat bahwa tidak penting berapa hasil yang didapatkan dari aksi tersebut, tapi yang menjadi perhatian utama adalah di tengah gersangnya kepedulian mahasiswa dan lembaga-lembaga resmi mahasiswa semacam Pema Unsyiah ada "segerombolan" anak-anak yang masih peduli terhadap kondisi sosial mahasiswa. Bagaimana oase di gurun pasir mereka hadir di tengah individualitas dan hedonitas kehidupan mahasiswa Unsyiah.
Yang justru kemudian menjadi lucu adalah ketika Pema Unsyiah dengan medianya Sahaja mengeluarkan pernyataan kontroversial dan teubai muka, dengan meyatakan bahwa terbongkarnya "kekeliruan" rektorat dengan Surat Keputusan nya adalah buah dari kerja Pema Unsyiah yang telah melakukan audiensi dengan pihak rektorat. Suatu pernyataan yang sangat bertolak belakang dari fakta yang sebenarnya. Penulis melihat pernyataan yang dikeluarkan Pema Unsyiah yang ditanda tangani oleh Mujiburrahman selaku Presma Unsyiah memperlihatkan bahwa Pema Unsyiah kelabakan dengan kedok yang sudah terbongkar. Pema Unsyiah ingin menyatakan kepada publik mahasiswa bahwa Pema merupakan corong aspirasi mahasiswa, walau faktanya berkata lain.
Penulis ingin mengatakan bahwa Pema Unsyiah mempunya andil besar dalam kenaikan SPP tahun ini, bukan seperti pernyataan Pema yang menyatakan sebaliknya. Pema Unsyiah ikut bersekongkol dengan rektorat untuk mencuri uang mahsiswa dengan dana-dana siluman terbut. Buktinya adalah Surat Usulan Pema Unsyiah kepada pihak rektorat Nomor 006/DPH/PEMA/USK/VII/2009 pada tanggal 6 Juli 2009 Tentang Daftar Kutipan Dana diluar SPP Mahasiswa Unsyiah, yaitu bagi mahasiswa baru sebesar Rp 261.000 dan bagi mahasiswa lama sebesar Rp 75.000.
Dalam berpolitik memang dikenal proses saling menelikung, menelikung di tikungan seperti yang dilakukan oleh Pema dalam hal SPP tersebut. Akan tetapi, jika dalam menyuarakan aspirasi dan kepedihan hidup mahasiswa pun dipakai untuk tujuan politis maka bisa dibayangkan betapa bobroknya moral mahasiswa, apalagi jika ini dilakukan oleh Pema yang mayoritas dihuni oleh mahasiswa-mahasiswa "yang katanya" peduli, yang selalu menunjukkan eksistensinya sebagai seorang mahasiswa yang 'abid. Sungguh kebohongan besar apa yang telah dikatakan Mujiburrahman dalam kampanye nya ketika hendak duduk di kursi Pema Unsyiah tersebut.
Seharusnya kita bisa saling bergandengan tangan untuk dapat menyuarakan aspirasi mahasiswa dan membangun kekuatan mahasiswa sebagai pengawal kehidupan sosial di dalam masyarakat. Siapa yang dapat nama tidak lah penting untuk diperdebatkan, yang penting adalah kepentingan mahasiswa selalu menjadi tujuan bersama dan yang utama.
Terakhir, tulisan ini hanya bertujuan untuk membuka mata kita bersama akan kondisi kehidupan mahasiswa di kampus yang katanya Jantoeng Hatee rakyat Aceh tersebut. Seperti kata proklamator kita, Muhammad Hatta, bahwa kampus adalah republik berpikir bebas. Oleh karena itu, mari kita membuka semua pikiran kita untuk bebas demi kehidupan yang lebih baik dan ideal seperti yang kita cita-citakan. Jika ada yang tidak berkenan dengan tulisan saya, maka mari kita duduk bersila berbicara dengan pikiran kita untuk kita bersama.
Saleum..
Muhajir
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala.
0 komentar:
Poskan Komentar