13 Agt 2009

Entah, Tak Tau Kukasih Judul Apa

Bari tadi pagi kudengar kabarmu telah berpulang kawan, meninggalkan beribu cerita yang telah kau ukir, meninggalkan beribu kisah heroik untuk kami yang masih berada di jalan ini. Semangkuk kupi tadi malam di bentaran kali itu menjadi kehangatan terakhir yang kurasa bersamamu, disitu pula kau bercerita bahwa kau ingin bertemu Izrail di jalan yang sedang kita jalani sekarang, dalam desingan peluru, dalam terpaan darah para syuhada.

Tapi, tuhan berkehendak lain kawan. Izrail tak menjumpaimu di jalan ini, jalan yang telah mengajari kita bagaimana untuk peduli, jalan yang penuh yang terjal mendaki dan berduri dibandingkan jalan indah yang banyak dilalui oleh para saudara-saudara kita di balik tembok kampus itu. Kau bersua dengannya ketika tidur melelapkanmu, mungkin kau sedang bermimpi melihat apa yang selama ini kau impikan terwujud adanya, impianmu tentang negeri yang indah yang tanpa kemunafikan.

Aku tak bisa memberikan apa-apa padamu, tak bisa mengantarmu ke liang tanah. Jika aku boleh memakai alasan orang banyak, aku cuma bisa memberikan doa, doa yang beribu hijab antara aku dengan Nya. kudoakan agar kau masih bisa berteriak lantang di liang itu, berteriaklah dan katakan pada semua penghuni liang tanah bahwa kemunafikan yang kau benci itu masih bergentanyangan di dunia ini. katakan pada munkar wa nankir bahwa kau adalah titisan Saidina Umar, Saidina Ali, yang tak bisa diam melihat kemunkaran, walau banyak orang dan bahkan saudara kita di dunia ini menganggap perang mu dengan kemungkaran itu hanya sandiwara untuk mencapai kepentingan dunia belaka. Tapi aku tak percaya itu kawan, karena aku ada di sampingmu ketika kau menghunus pedang menghujam mereka yang mungkar.

Dua bocah yang kau tinggalkan di gubuk reyot itu akan aku jaga, itu janjiku kawan. Akan aku ajari mereka cara berperang, akan aku ceritakan pada mereka bahwa bapaknya adalah seorang panglima para pejuang yang di panggil Izrail justru bukan di medan perang. Sekarang, aku belum bertemu mereka, dua panglima kecilmu itu. Tak bisa aku bayangkan apa yang mereka rasakan ketika tahu kau telah bercumbu dengan Izrail.

Anak-anakmu adalah anak-anak bumi, yang diciptakan tuhan untuk menjadi penjaga bumi dari Juz Ma'juz manusia. dan tuhan telah menitipkan pada mereka darah yang mengalir dalam tubuhnya adalah darahmu, darah yang tak pernah merasa bosan menghadang semua serdadu laknat, darah yang lebih deras dari derai Krueng Peusangan atau Sungai Alas. Jadi, jangan kau takutkan akan nasib mereka di bumi ini kawan, mereka telah menyatu dengan bumi.

Kawan, jasadmu telah diliangkan, tapi semangatmu masih ada pada kami. Pada dua bocahmu, pada nenek tua yang kau tolong kemarin senja dan pada mereka-mereka yang selalu rindu ingin mentap wajahmu. Salamku buat Izrail si pencabut nyawa itu, lama sudah dan rindu berat kunantikan ia disini, berharap bisa meneguk semangkuk dua mangkuk kupi bersamanya di kota tua ini, sembari bisa bercakap dan bercerita tentang neraka dan surga yang telah membuat mabuk manusia di dunia. Mabuk akan kenikmatan yang di iklankan surga, mabuk akan kesengsaraan yang selalu diteror neraka.

Senja ini aku kembali ke bantaran kali tempat kita menikmati kopi semalam, pastinya semangkuk ini akan kuhabiskan sendiri tanpa kau lagi disini..

Selamat Jalan Kawan..!!

0 komentar: