29 Agt 2009

Facebook, Wujud Generasi Memble

Sejak Facebook diluncurkan pertama kali pada tanggal 4 Februari 2004 oleh Mark Zuckerberg dimaksudkan sebagai media untuk saling mengenal bagi para mahasiswa Harvard, dan sejak saat itu pula acount ini telah menjadikan Mark sebagai milyarder muda di dunia. Dunia mengakui bahwa facebook telah mengalahkan acount jejaring sosial lainnya dalam popularitasnya semisal blog, friendster dan lainnya.

Ketika aku menggunakan acount facebook pada awal tahun 2008, pada masa itu facebook digunakan sebagai media untuk saling berdiskusi, berdebat dan memikirkan tentang hal-hal yang selalu mengisi fenomena sosial masyaarakat, baik politik, ekonomi, budaya dan bahkan hingga gaya hidup. Kalangan yang mengakses acount Facebook waktu itu adalah orang-orang yang hidupnya tidak bisa dipisahkan dengan komputer dan dunia maya sebagai tempat untuk menambah ilmu dan mencarai informasi. Status yang mengisi wall dan catatan yahg diposting selalu menarik untuk dikomentari dan didiskusikan, hal ini memang mengalahkan fungsi blog hingga banyak para blogger yang meninggalkan rutinitas blognya sekedar untuk bercengkrama di acount Facebook.

Sekarang, setelah acount ini semakin lebar sayapnya para penggunanya pun semakin bertambah tidak hanya dari golongan dan kelas sosial yang saya sebutkan diatas, tetapi sudah sampai pada lapisan anak sekolah dan para mahasiswapun menggunakan acount ini. Dan sesuatu yang menjadi daya tarik dan menghiasi Facebook pun luntur sedikit demi sedikit, mungkin karena semakin banyak corak ragam dan pikiran para pengguna maka perbauran corak pikir pun tak dapat dihindari. Facebook pun ajang curhat dengan status cengeng atau sesuatu yang kadang tidak perlu untuk dituliskan, semisal anak kecil yang merengek di depan orang tua.

Jika mau mengamati, fenomena ini semakin menjadi dalam beberapa bulan terakhir. Fenomena ini menggambarkan generasi memble atau yang suka enggeh-enggeh daripada generasi yang peduli yang kadang sedikit membangkang terhadap kondisi sosial yang tidak ideal. Martin Heidegger, filsuf Jerman, mengatakan bahwa sifat suatu kelompok masyarakat atau orang perorang dapat dilihat dari hal-hal yang berada di sekelilingnya, mulai dari jenis musik kesukaan, makanan kesukaan atau gaya hidup. Dan fenomena facebook tersebut mengindikasikan bahwa kebanyakan orang-orang sekarang adalah para kaum memble yang hedonis dan apatis.

Dikatakan hedonis karena menggunakan facebook cuma sebatas kesenangan dan bahkan sampai melalaikan dari hal-hal penting yang harus dilakukan. Apatis karena apa yang tampak di acount orang tersebut sangat jarang (jika tak mau dibilang tak ada) yang bersentuhan dengan kondisi real lapangan yang dialami masyarakat. Aku jadi ingat perkataan seorang teman, bahwa semua yang terjadi dengan gaya hidup anak muda sekarang ada suatu settingan yang tersistematis, semisal musik, gaya hidup, dan juga gaya berpikir. Tapi sang teman tersebut tidak menjelaskan secara rinci tentang settingan tersebut, termasuk siapa yang mensettingnya. Wallahu'alam..

Tulisan ini adalah hasil pikiranku, makanya harap sangat akan sumbangan pikir dari lainnya. Semoga kita tidak menjadi Generasi Memble..

Saleum..

2 komentar:

Diyus mengatakan...

Martin Heidegger, mantap.

Diyus mengatakan...

Ada yang tertinggal. Sejatinya bukan facebook (atau portal komunitas maya lainya) yang bikin generasi memble, generasi itu sendiri yang memper-memble dirinya karena tidak mau menggali potensi diri. Faktor eksternal berpengaruh besar, tapi bukan penyebab utama, karena di setiap masa penuh ke-memble-an dan kecengengan selalu lahir harapan bagi orang yang mampu membaca peluang.