Lama sudah tak kujamah Kuta Malaka dengan segala keindahannya yang diberikan tuhan, pastinya aku tak ingat, mungkin ada sekitar sebukan dua bukan kaki ini tak pegal mendaku dan peluh tak membasahi tubuh. Ketika kuketik catatan ini, baru saja aku pulang dari sana, melepas lelah sejenak dan langsung menatap layar maya ini untuk sebuah catatan dan untuk secuil ilmu.
Kuta Malaka dulunya adalah sebuah mukim yang kemudian oleh orde baru dijadikan kecamatan, karena dulu sebelum peraturan yang mengenaralisasikan pemerintahan setingkat gampong ada, kecamatan tidak dikenal dalam sistem pemerintahan di Aceh. Sebagai sebuah mukim yang berada di kaki pegunungan bukit barisan Kuta Malaka memiliki banyak modal untuk menghidupi masyarakat nya dari hutan. Air yang jernih untuk kehidupan dan persawahan, tanah yang subur untuk perkebunan dan bahkan potensi hutannya yang tak kalah menarik adalah Air Terjun Tuan Muerah Kuta Malaka.
Tuan Meurah adalah nama seorang ulama setempat yang makamnya berada di kaki bukit yang dialiri sungai yang hulunya memiliki air terjun bertingkat 46. 46 tingkat adalah hasil dari eksplorasi kawan-kawan Mapala Hukum Unsyiah pada awal tahun 2008. Dari nama Tuan Meurah itulah kemudian lahir nama sungai dan air terjun tersebut. Aku tak punya referensi banyak tentang kidah hidup Tuan Meurah selain konon kata masyarakat setempat makam Tuan Meurah dijaga oleh seekor harimau dari rimba setempat.
Di hulu Sungai Tuan Meurah punya air tejun dan di muara sungai tersebut punya kewajiban untuk menghidupi ribuan warga Aceh Besar, diantaranya Samahani, Montasik dan Sibreh. Jika sampai Tuan Meurah kering, maka kering pula sawah masyarakat di daerah tersebut. Maka, bisa dibayangkan jika salah satu sumber kehidupan itu hilang, kehidupan manusia pun akan macet. Menjaga dan merawat Tuan Meurah menjadi tugas kita bersama untuk kelangsungan hidup masyarakat setempat.
Sampai sekarang, Tuan Meurah memang belum menampakkan gejala penyakit kekeringan total seperti yang banyak dialami di daerah pulau Jawa sana. Yang ada hanya kekeringan karena musim memang lagi kemarau, dan itu tidak terlalu menjadi masalah karena menagemen air secara alami yang dilakukan oleh pepohonan di sekeliling sungai di hulu masih stabil, dan satu-satunya cara untuk menjaga agar managemen air itu tetap stabil adalah dengan tetap memelihara pepohonan disekitar sungai. Loging dalam bentuk apapun (baik legal maupun ilegal) diharamkan menurut ilmu pengetahuan dan juga menurut adat setempat.
Ada banyak sumber daya alam yang ada di Kuta Malaka, aku beserta kawan-kawan di Mapala Hukum Unsyiah akan tetap dan terus mengeksplorasi kekayaan tersebut agar bisa dinikmati oleh masyarakat setempat tanpa merusak lingkungan hidup dan tanpa merusak sumber airnya. Banyak yang belum terjamah oleh pikiran dan tenaga kami yang terbatas ini. Banyak tanaman obat yang bisa dimanfaatkan, banyak tempat yang bisa dijadikan tempat ekowisata konservasi dan banyak kearifan lokal masyarakat setempat dalam menjaga lingkungan hidupnya.
Untuk sementara ini yang dapat aku ceritakan dalam catatan pendek ini, nanti aku akan kembali dengan cerita lain lagi. Tentang kekayaan di tanah yang meutuah ini, tentang kehidupan yang damai sebelum para serdadu negara mengusiknya dengan operasi atas nama nasionalisme buta.
Salam Lestari dan Berdaulat untuk alam kita..!!
Muhajir
Ketua Mapala Hukum Unsyiah
0 komentar:
Poskan Komentar