Tak bisa kuberi apa untuk negara ini selain celotehan yang kurajut dimalam senyap ini, walau kemudian ada yang mengatakan bahwa aku manusia yang tak tau berterima kasih terhadap negara ini yang telah membesarkanku. Tak apalah, biar saudaraku berkomentar, untukku dan untuk negara ini aku harap berguna.
Sudah 64 tahun kita memproklamirkan kemerdekaan dari selembar kertas proklamasi, walau kemerdekaan yang hakiki belum jua sampai ke pangkuan. Ada keinginan untuk terus menggapainya walau kadang terhadang oleh para pengkhianat bangsa ini, koruptor, politisi yang ingi merubah pancasila dan kaum wahabi yang sepuluh tahun terakhir ini sudah mulai menyebarkan virus-virus kehancurannya ke negara ini.
Ada makna besar yang terkandung dalam setiap peringatan hari kemerdekaan, hari dimana kita memperingati Soekarnoe dan Hatta membacakan manifesto negara ini, negara yang kaya raya akan hasil bumi dan kreasi nenek moyangnya. Makna bahwa kita sedang memegang estafet yang dititipkan Soekarnoe, Hatta, Jenderal Soedirman, dan yang lainya untuk mencapai kemerdekaan yang hakiki. Seberapa mampu kita melaksanakan adalah masalahnya.
Jika kita lihat sekilas, tak ada sudut negeri yang tak meriah memperingatinya dan meneriakkan kata-kata merdeka. mulai dari umbul-umbul sampai bendera yang di cetak sebesar mungkin, mulai dari panjat pinang berminyak sampai loncat goni. Tapi mari kita susupi lebih dalam kegiatan tersebut dan kelakuan kita sehari-hari dalam memegang estafet perjuangan yang dititipkan ini, maka akan terlihat dan zahir kontradiksinya.
Sebenarnya kita sedang menipu diri dalam kemeriahan tujuh belasan, kita lebih bangga dengan segala macam produk luar negeri dari pada mencoba membantu ekonomi negara ini dengan menggunakan produk dalam negeri, rupanya logika pasar lebih kuat dari rasa nasionalisme. Pemimpin kita pun lebih senang berobat ke Malaysia daripada menggunakan peralatan dan rumah sakit daerah sendiri yang lebih mumpuni, jika alasanya soal kualitas kenapa tidak membangun institusi kesehatan yang lebih berkualitas di tengah uang yang sangat melimpah ini. Anak-anak para pejabat dan orang yang berkelas lebih bangga dan senang jika bisa liburan dan menghabiskan uang di luar negeri dibandingkan dengan berlibur dan menikmati keindahan alam negara sendiri. Anak-anak muda kita lebih bangga dan senang dengan budaya-budaya hedonis luar daripada berkreasi dengan budaya yang telah diwariskan nenek moyang yang kaya makna dan pesan-pesan hidup.
Ini sekelumit kisah dan fakta yang harus kita sadari dan kita benahi, karena rasa cinta tanah air tidak penting diungkapkan dengan seremonial dan segala macam ritual-ritual yang tak memberi makna. Jika kehidupan sehari-hari tak bisa kita ekspresikan rasa cinta tanah air, maka semua seremonial tujuh belasan tak lebih dari piasan palsu dan candu.
Jika panjat pinang dan loncat goni bisa memeriahkan seremonial tujuh belasan, tanyakan pada hati kita yang melakukannya apakah kita mampu dan mau secara sungguh-sungguh untuk tetap mencintai negara yang sedang morat-marit ini dalam kehidupan sehari-hari.
Aku harap nasionalisme bukan hanya sebatas kata pengisi status Facebook dan bukan hanya sebatas seremonial belaka, demi kemerdekaan yang hakiki yang selalu kita harapkan.
Saleum..
0 komentar:
Poskan Komentar