Rambut supakmu hampir kembali lagi, setelah lama hilang sejak kau di serang serdadu malaria dari lembah Kuta Malaka. serdadu yang tak tau di untung, menyerang mu yang di setiap purnama menjejakkan kakinya di lembah nan indah itu.
Tatapmu kelam dan bola matamu semakin dalam, sedalam harapmu untuk kota tua ini. Kota yang telah kau pijak kan cita dan harapan besar di trotoar dan lampu remang jalanan malam. Di kota tua ini pula kau berteriak dan berceloteh tentang hidup yang kadang tak adil, tentang mereka yang kadang tak sudi melihat fakta bumi yang dipijak, dan aku terus meratapi nasib malangmu yang kadang tak kau hiraukan demi secuil yang kau harap itu.
Mukamu tirus, lonjong dan tajam, setajam ingatanmu akan kehidupan yang tak pernah usai yang selalu memberimu tantangan walau aku dari jauh melihatnya adalah kepahitan sepahit-pahit hidup. Air wajah yang menaungi muka mu itu juga tak jauh beda, selalu menmapakkan keprihatinan, sekan ada seulawah gunung diatas pundakmu.
Lusuh tubuhmu bukanlah tabu, seperti yang selalu mereka katakan di mimbar-mimbar atas nama agama, atas nama keindahan, atas nama kesopanan. Agama, keindahan, kesopanan adalah candu jika hanya untuk melayani nafsu mereka. Pembungkus tubuh yang kau rajut semenjak dua menjak dari kau masuki gerbang kota ini, laksana pembalut pakain malaikat yang turun dari altar tuhan.
Kau tak pernah berwangi ria dengan parfum, seperti yang lazim dilakukan oleh anak muda sekarang. Bagimu kotor dan bersih itu relatif, dan membalut diri dengan keindahan pakaian adalah kemunafikan yang tak mampu menampakkan wujud aslinya. Melihatmu seperti itu aku teringat akan masyarakat di tepi pantai Kute di Bali, bahwa bagi mereka telanjang adalah kesederhanaan dan keterusterangan.
Kau pernah berkata padaku, disela senja yang dihiasi gerimis merintik. Bahwa hidup adalah perjuangan, perjuangan untuk manusia yang lebih bermartabat, untuk manusia yang berkeadilan. Begitu mulia nya hati mu kawan, sungguh suatu anugerah jika aku bisa bersamamu menapaki setiap sudut tantangan ini. Melawan bersama, berteriak bersama, berceloteh bersama di angkuhnya kota yang telah membuatmu begini adanya. Dan kau juga selalu mengingatkanku bahwa kesederhaan itu adalah kekayaan yang tak hingga yang diberikan tuhan, apa adanya adalah kenikmatan senikmat-nikmat hidup. Walau yang zahir lapar dan sedih bau tubuhmu mengatakan kau sedang menikmati hidup bak di surga.
"Aku ingin mencium bau tubuh aslimu tanpa kepalsuan parfum dan Aku ingin melihat keindahan tubuh lusuh dan kulit dekilmu tanpa topeng pakaian"
0 komentar:
Poskan Komentar