
Soe Hok Gie, sebuah nama yang menjadi idola anak muda indonesia setelah Riri Reza menceritakan kisah dam kehidupannya dalam sebuah film yang berjudul Catatan Seorang Demonstran. Walau dikawan-kawan gerakan sikapnya yang suka naek gunung dianggap sebagai bentuk pelarian dari keadaan yang sebenarnya dan lari dari tanggung jawab, siapa yang tak kenal Gie, dia adalah tokoh yang menghiasi sejarah politik Indonesia pada era 1960-an. Lahir pada 17 Desember 1942 dan meninggal secara mengenaskan kerena menghirup belerang di puncak Semeru pada tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27. Pemikiran Gie banyak mewarnai gerakan mahasiswa setelahnya, yaitu gerakan 1974, 1980-an dan juga 1998 sampai 2000-an.
Sejak masih sekolah Gie sudah terbiasa dengan karya-karya orang besar dunia, seperti Pramodya Ananta Toer, Mahatma Gandhi, dan Juga Rabindranath Tagore. Seperti calon-calon tokoh lainnya, Gie sudah menjadi jadi "pembangkang" sejak duduk di SMA, sering membantah apabila apa yang dia pikirkan tidak sesuai dengan apa yang dikatakan oleh gurunya. Dan keadaan tersebut mencapai kanalisasinya ketika Gie kuliah di Fakultas Sastra UI.
Pikirannya yang tajam dan kritis mulai menghiasi surat kabar nasional semisal Kompas, Sinar Harapan, Indonesia Raya dan lainnya pada masa itu. Gie juga menghasilkan beberapa buku yang alhamdulillah masuk dalam daftar buku saya dirumah, seperti Dibawah Lentera Merah, Orang-Orang di Persimapangan Kiri Jalan dan juga Catatan Seorang Demonstran. Gie sudah mulai menulis sejak berumur 15 tahun, sejak saat itu apa yang dialaminya di simpan dalam catatannya hingga kemudian melahirkan sebuah buku Catatan Seorang Demonstran.
Yang menarik kemudian adalah bagaimana proses ketika Soekarnoe berhasil ditumbangkan dan Soeharto berhasil menduduki dan membangun pondasi dinasti orde barunya. Ketika inilah Gie harus bersitegang dengan beberapa kawan seperjuangannya karena berbeda pendapat tentang masuk ke dalam kekuasaan Soeharto atau harus terus menjadi oposisi sejati, dan Gie pun memeilih oposisi dan tetap melawan untuk sebuah kebenaran.
Bagi Gie, berpegang pada prinsip yang diyakininya benar adalah segala-segalanya. Lebih baik diasingkan daripada harus berdamai dengan kemunafikan. Nilai seperti inilah yang sebenarnya merupakan esensi dari kisah seorang Gie, bagaimana anak muda sekarang bisa mengedepankan moral dan kebenaran daripada kepentingan kesenangan dan juga kepentingan kelompok. Bagaimana mahasiswa sekarang bisa membangun sensitifitas gerakan daripada harus berkutat dengan nilai-nilai yang kadang cuma sebatas simbol untuk selembar ijazah itu. Gie sudah menampakkan semuanya pada mahasiswa dan anak muda Indonesia, bahwa perjuangan tidak pernah berakhir, dan ia selalu hidup bersama kehidupan manusia.
Semoga bisa hadir seribu Gie lagi di negeri ini..
"Hidup adalah soal keberanian. Keberanian menghadapi tanda tanya, tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa mengelak. Terimalah dan Hadapilah.. (GIE)"
0 komentar:
Poskan Komentar