Jika mengamati seluk beluk kehidupan mahasiswa fakultas hukum dalam beberapa hari ini, kita disibukkan dengan berbagai atribut kampanye calon ketua BEM yang akan bertarung dalam pemilihan raya (PEMIRA) beberapa waktu dekat ini. Tak ada yang unik sebenarnya, karena kampanye calon ketua BEM tahun ini sama dengan tahun-tahun sebelumnya yang penuh dengan carik kertas bergambar sang calon dihiasi beberapa bumbu-bumbu pemanis kata agar menarik nafsu mahasiswa untuk memilih sang calon. Yang menarik justru ketika cara dan bumbu itu tak pernah berubah, setidaknya itu yang saya lihat selama empat tahun menjalani hiruk pikuk kehidupan kampus tua ini sebagai mahasiswa.
Mulai dari gambar sang calon yang mengumbar senyum termanisnya sampai visi misi yang mencoba menyelam masuk kedalam hati mahasiswa terus saja menjadi tontonan dan bacaan setiap tahun ketika kampanye untuk memilih sorang pemimpin mahasiswa di kampus ini. Belum lagi ada calon yang dengan “tebal muka” memamerkan sederet dua deret daftar absen seminar dan forum diskusi yang diikutinya, padahal jika boleh jujur namanya tercantum di daftar absen tersebut cuma sebagai pendengar yang baik, bahkan berbicara saja tak mampu.
Budaya pembodohan seperti ini semakin menjadi dan bahkan menjadi penyakit, ini mungkin karena pola pikir sang calon tak jauh dari formalistik positivistik, selalu menampakkan kebaikan walau kadang kebaikan tersebut harus dirangkai sedemikian rupa dari kepalsuan-kepalsuan yang ada, toep salah peuleumah saleh. Sudah demikian parahkah pikiran kita untuk mencapai sebuah kekuasaan yang kadang kekuasaan itu cuma untuk membuat suatu seminar atau kegiatan formalitas semisal peringatan kemerdekaan di sebuah pulau.
Saya teringat guyonan Ashadi Siregar, penulis novel Cintaku Di Kampus Biru, “Bagaimana Mengukur Kualitas Pacar Kita? Kalau Dia Sudah Berani Kentut di Depan Kita”. Guyonan ini kemudian di populerkan oleh budayawan Butet Kertaradjasa dalam artikelnya di harian nasional Kompas beberapa tahun lalu. Bagi saya guyonan ini bukanlah canda tapi penuh pendalaman makna, saya berpikir bahwa mengukur kapasitas cinta pacar kita ya dengan keberanian dia menampakkan keburukannya di depan kita atau bahkan “telanjang diri” di depan kita, karena dengan hal tersebutlah dia ikhlas mencintai. Begitu juga dengan mengukur keikhlasan calon ketua BEM yang kita harapkan (semoga) tulus untuk memajukan kampus yang tak seberapa tua ini.
Beranikah calon ketua BEM kita “telanjang” dengan semua aib yang ada pada dirinya? Ini yang tak pernah nampak pada setiap kampanye pemilihan. Semua yang dinampakkan adalah kebaikan yang masih perlu dipertanyakan benar adanya, semua yang dinampakkan adalah gosip-gosip istana tentang keindahan, kecantikan, kebaikan yang akan dicapai suatu hari jika sang calon tersebut terpilih. Mengukur keikhlasan calon ketua BEM kita adalah dengan keberanian dia menampakkan aibnya di depan mahasiswa, menelanjangi semua kebaikan dan kejelekannya di depan mahasiswa agar semua mahasiswa tau apa yang ada, apa adanya. Bukan dengan menutupi sebagian tentangnya yang jelek dan buruk dan kemudian menampakkan semua kebaikan.
Kita mengharapkan semua calon ketua BEM kita berani bertelanjang, darimanakah dia, apa kepentingannya, apa keburukan yang pernah dibuatnya, seberapa besar korupsi yang pernah dia perbuat, seberapa besar sifat egoismenya, apa yang akan dia lakukan seandainya kepentingan kelompoknya dihadapkan pada kepntingan mahasiswa fakultas hukum, semua itu tolong dijawab oleh calon ketua BEM, jangan sampai keburukan yang pernah dibuat oleh mereka terulang pada mahasiswa fakultas hukum setahun kedepan, jangan sampai tragedi Densus 88 9/9/2009 yang menginjak-injak harkat dan martabat mahasiswa fakultas hukum serta semua elemen kampus akan terulang lagi.
karena telanjang adalah keikhlasan, telanjang adalah keterusterangan, telanjang adalah ketulusan, telanjang adalah apa adanya. Maka mari kita telanjang, mari kita ikhlas, mari kita berterusterang, mari kita tulus, mari kita berbuat apa adanya. Dan pastinya, mari kita pilih calon ketua BEM kita yang berani telanjang, apa adanya, bukan yang memamerkan kecerdasannya tak seberapa cerdas itu, bukan yang memamerkan kesopanan yang sebenarnya adalah topeng.
*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2005, bergiat pada Komunitas Kolong Langit Syiah Kuala.
2 komentar:
Buka-Bukaan didepan ku, sampai... Telanjang...!!!
Gak perlu malu-malu padaku, saat...
Telanjang...!!!
Menarilah bersamaku, sambil...
Telanjang...!!!
Paling bisa kau ban, suka kali yang telanjang.. hehhee
Poskan Komentar