1 Jan 2010

Seulawah Agam, Ceria Kita Peluh Bersenda


Jangan mengaku pecinta alam Aceh jika belum menyentuh puncak Seulawah Agam, 1806 Mdpl, Sebuah ketentuan tak tertulis bagi para pecinta alam di Aceh. Ketika aku baru bergabung di Mapala Hukum Unsyiah pada awal 2007, maka yang menjadi pijakan pertama unutk membuktikan diri sebagai petualang dan bercumbu dengan alam adalah mendaki Seulawah Agam. Ini menjadi ujian pertama walau aku lebih mengatakannya sebagai bulan madu sebagai pecinta alam.


Ketika kutulis catatan ini, kawan-kawanku di Mapala Hukum sedang berada di puncak Seulawah Agam, ikutan merayakan ritula tahun baru 2010 yang aku tak tahu darimana pertama ritual itu dilaksanakan. Tetapi aku tak ikut bukan karena menolak ritual tersebut, tapi karena ada satu dua alasan yang harus diselesaikan di kota yang amat riuh dengan hiruk pikuk manusia ini. Terakhir aku menapaki puncak Seulawah adalah pertengahan 2008, ketika kawan-kawan dari Mapala STIK Chiek Pante Kulu mengadakan acara Seulawah Sapu Gunung (SSG). Rindu memang untuk menjamahnya lagi, tapi ruang dan waktu belum memberi aku peluang yang cukup untuk itu.

Sebenarnya berbicara daya tarik, Seulawah Agam tak punya daya tarik seperti gunung lainnya di luar Jawa yang menyediakan pemandangan bumi terhampar dan gemerlapnya lampu kota, Seulawah tak punya itu, karena puncaknya memang tertutup pohon rimbun berlumut dan pastinya tak menampakkan pemandangan kecuali sesekali dari celah pohon rimbun berlumut itu.

Yang paling aku suka dari mendaki Seulawah adalah kampung terakhir di kaki Seulawah, biasanya sebelum memasuki pintu rimba dan memulai pendakian kami selalu menginap semalam di kampung terakhir, Suka Damai. Air riuh yang mengalir di sela jalan, hamparan kebun yang luas, udara dingin dan sejuk, masyaraktnya yang ramah, merupakan daya tarik utama di kampung terkhir tersebut. Belum lagi jika pagi ingin melihat matahari terbit, maka disini menjadi tempat yang amat cocok unutk menikmatinya, serasa tak cukup kata-kata untuk kutulis disini.

Kapan ya bisa kesana lagi.. entahlah.. !

4 komentar:

nindystop mengatakan...

Itu foto ambil sendiri bang?
Asyik ya naik gunung. Oh ya Mapala itu cuma untuk mahasiswa/i?

Nindy

muhajir pemulung mengatakan...

Gak dek, foto sendiri gak nampak dari atas gitu lah.. hehe.. itu foto mabil di google, entah dari pesawat entah dari satelit [plagiat].

Mapala itu kan lembaga yang ada di kampus, anggotanya ya mahasiswa/i. tapi gak tertutup kemungkinan bagi kawan-kawan luar baik itu siswa atau masyarakat biasa unutk bergabung dalam kegiatan mapala.

Kalau misalnya Nindy dan kawan-kawan mau juga ikut naek gunung atau kegiatan lainnya bisa gabung sama kami dek, biasanya kami kalau malam minggu naek ke samahani [kuta malaka], tapi gak tiap minggu. nanti bisa aja hubungi kami kalo kalianmau gabung..

Hehe

Dedi Ikhwani, SP mengatakan...

Aslm, "Jangan mengaku pecinta alam Aceh jika belum menyentuh puncak Seulawah Agam" ini merupakan kalimat yang terlalu didramatisir. PA bukan hanya mendaki gunung akan tetapi bagaimana upaya untuk melestarikan alam sesuai dengan kapasitas dan kredibilitas yang dimiliki. ada kalimat aneh lainnya yang terkuak "Seulawah Agam tak punya daya tarik" padahal banyak ekosistem hayati yang terdapat di seulawah baik melaui jalur saree maupun jalur lamteba seperti anggrek, lumut, pakis-pakisan, jenis pohon, serangga, insekta, aves, dan mamalia lainya. selain itu potensi pemandangan seperti lahan pertanian, pemukiman masyarakat, pintu angin, air terjun tanah cempaga, batu gajah, beringin tujuh, belerang, pilar dan masih banyak potensi lainnya. hanya saja belum mendapatkan pengelolaan secara khusus seperti gunung2 dijawa yang pernah anda kunjungi tersebut. ironinya pemerintah hanya mampu memanfaatkan potensi tanpa mengkaji dampak yang akan ditimbulkan seperti izin HGU dan Tambang energi panas bumi untuk energi listrik. illega logging semakin merajarela, bencana yang ditibilkan akibat tangan jail manusia hanya menjadi media publikasi saja, keprihatinan masyarakat tersebut tidak digublis. semua ini merupakan daya dan upaya hipnotis masyarakat yang pada akhirnya mengacu keranah "kolonial berkedok investasi".

everything you want mengatakan...

bulan agustus ada rencana naek seulawah ga?