Aku menunggumu perempuanku
Peluh dari rawa seberang menemaniku subuh ini
Kala matahari pergi aku berjalan menyusuri sepetak sawah
Hingga Rawa Pancu menemani malamku untuk sebuah lauk sarapan pagi kita
Aku menjagamu perempuanku
Tak rela kuketuk pintu tua rumah kita hanya untuk membangunkanmu
Karena kutau tulangmu tak sekuat ragaku yang kekar kelam ini
Karena kutau kau perempuanku, kelembutanku, kesahajaanku
Fajar sadiq mengintip dari ujung dunia kampung kita
Anak gampong memanggil tuhan dengan suara merdu
Kau betinaku, bangunlah,
ada sejumput asa di riuhnya para burung belakang rumah kita
Kau perempuanku, datanglah
Kita akan berjalan melewati hari ini
Dengan keindahan nikmatnya tuhan
Dengan kenikmatan sederhananya para sufi
[Sagoep, Subuh Buta, 2 Januari 2010]
0 komentar:
Poskan Komentar