Cinta, tak lebih dari hikayat ranjang
terbang melintasi simpang surabaya menghentikan sorak soray pecandu dadu
Cinta, tak lebih dari iklan tubuh
berjalan meliuk dan menikung hingga persimpangan kampung tua
Bidadari masih sibuk berhiruk di hayalan
para tentara sudah berpaling pada tubuhnya
laksa memenggal kepala tuhan, mereka berperang atas nama birahi
laksa surga yang tak berpenghuni, mereka datang meneguk nafsu
Salah siapa hingga tuhan terpenjara
Salah siapa hingga tuhan mati
Kita yang diajarkan bahwa tuhan melihat segala yang kita buat
kita pula yang meyakini bahwa tuhan tak pernah tidur apalagi mati
nah, bukankah tuhan telah mati jika kita tau itu salah dan masih kita perbuat ?
bukankah tuhan telah mati dalam pikiran kita ?
bukankah kita telah menganggap tuhan mati hingga kita berani berlaku seperti itu ?
Lantas, kenapa harus marah ketika ada orang mengatakan tuhan telah mati ?
tak perlu marah kawan, memang begitu adanya ..
Bersujudlah jika kau memang ingin sujud
bukan karena kau rindu surga sehabis membaca kisah majalah murahan itu
bersujudlah karena tuhan, karena tuhan dan karena tuhan
bukan karena keindahan dan gaya hidup
karena sujud itu tak layak dibandingkan dengan keindahan
karena sujud itu bukan gaya
malaikat menyebut dan bersujud
bumi menari, langit bergoyang
laksa para sufi berjalan dengan kesahajaan
laksa para nabi makan di pinggir jalan
Mari, tuhan ada disini..
bukan di istana raja atau di jamuan para ulama..
0 komentar:
Poskan Komentar