Tulisan ini sedikit menyoal tentang peran dan hasil kinerja dari lembaga eksekutif mahasiswa tertinggi di Unsyiah, Pemerintah Mahasiswa Unsyiah (PEMA Unsyiah). Pema Unsyiah yang dipimpin oleh presiden mahasiswa Mujiburrahman sebagaimana kita ketahui telah setengah tahun dilantik oleh Rektor Unsyiah sebagai lembaga yang siap mengayomi dan memenuhi aspirasi 25.000 lebih mahasiswa Unsyiah, sebuah harapan dan kerja yang sangat mulia jika dilaksanakan.
Enam bulan berlalu dan enam bulan lagi kita menanti, alangkah indahnya jika kita mau mengevaluasi apa yang telah dibuat oleh Pema Unsyiah enam bulan lalu agar kedepan mereka yang merupakan pemimpin kita dapat lebih baik lagi dalam menjawab masalah demi masalah yang dihadapi mahasiswa Unsyiah.
Jika kita mau mengevaluasi pasti yang pertama kita tanyakan pada diri sendiri adalah apa tugas Pemerintahan Mahasiswa (PEMA) sebagai sebuah lembaga eksekutif mahasiswa tertinggi di Unsyiah. Presiden Mahasiswa dipilih oleh mahasiswa Unsyiah, milik 25.000 mahasiswa Unsyiah, dan tentunya bekerja serta “menjadi babu” 25.000 mahasiswa Unsyiah, ini yang harus kita garis bawahi. Kemudian baru kita tanyakan kembali, apa yang telah dilakukan oleh Pema Unsyiah terhadap mahasiswa Unsyiah, adakah suatu kebijakan atau kegiatan yang memberikan manfaat langsung kepada mahasiswa unsyiah serta dapat menjawab keresahan mahasiswa selama ini.Enam bulan sudah berlalu, sebagai mahasiswa yang setiap hari mengamati perkembangan politik mahasiswa unsyiah di kampus, saya berpendapat Pema masih sangat jauh dengan rakyatnya (baca=mahasiswa), Pema unsyiah lebih dekat dengan hiruk pikuk perpolitikan luar kampus. Sudah jadi rahasia umum jika Pema Unsyiah menjadi pihak yang sangat aktif melakukan demonstrasi dalam mengkritisi Pemerintahan Aceh, mulai dari ayam sayur sampai obat kuat telah diberikan oleh pema unsyiah kepada Pemerintah Aceh sebagai simbol ketidakmampuan pemerintah dalam memberikan kesejahteraan bagi Rakyat Aceh. Terlepas berbagai kepentingan politik dibelakangnya, saya memberikan apresiasi besar kepada Pema dan Mujiburrahman sebagai presiden dalam hal mengkritisi Pemerintahan Aceh.
Tapi, jika kita kembali kepada khittahnya, pema yang dipilih oleh mahasiswa Unsyiah selayaknya tidak melupakan kehidupan mahasiswa Unsyiah yang setiap hari juga (seperti rakyat aceh) melalui kehidupan perkuliahan yang penat di kampus. Jika Pema memang milik mahasiswa sudah seharusnya Pema berbicara kepentingan mahasiswa, bukannya kepentingan luar kampus yang penuh dengan intrik politik dan taktik tanpa berkutik. Bukannya tidak boleh berbicara tentang rakyat (jika memang pema berbicara tentang rakyat, Alhamdulillah), tapi berbicara rakyat dengan melupakan rakyat sendiri sungguh suatu yang tidak etis, “laloe bak dapu rumoeh gob, bue leuho rumoeh droe goh lom masak” begitu kata orang tua kita.
Mahasiswa Unsyiah mengharapkan dan mendambakan agar sekali-kali Mujiburrahman sebagai presiden mahasiswa berani berdiri dengan suara lantang menolak setiap sikap dan kebijakan rektorat yang merugikan mahasiswa, dengan suara lantang menolak kenaikan SPP bukannya justru membuat kesepakatan dengan rektorat untuk mencekik leher mahasiswa seperti kasus dana tambahan dan dana kemahasiswaan yang dibebankan kepada mahasiswa pada tahun 2009 lalu. Jika perihal tentang SPP kita tanyakan kepada Pema Unsyiah, maka pema akan menjawab akan kita diskusikan dengan pihak rektorat, dan jika tidak tidak ada titik temu dalam diskusi tersebut maka dengan mudah pula Pema lepas tangan dengan alasan telah berusaha. Jika Pema miliknya rektorat dan para pejabat di kampus Unsyiah maka kita dapat memakluminya, tapi kita semua sudah sepakat bahwa Pema adalah miliknya mahasiswa Unsyiah.
Keberpihakan Pema Unsyiah kepada Mahasiswa kembali diuji ketika rektorat berencana mengajak Pema, DPMU, dan Para Ketua BEM Fakultas untuk melakukan studi “melancong” banding ke Malaysia yang belum jelas tujuan dan tidak mempunyai dampak positif apapun terhadap mahasiswa. Saya tidak mendebatkan positif dan negatif studi banding tersebut, karena memang tak layak untuk di perdebatkan, semua sudah jelas, tanpa ada sedikitpun dampak posistif terhadap mahasiswa Unsyiah.
Ekslusifisme Pema Unsyiah
Dalam sebuah diskusi dengan kawan-kawan Fakultas Kedokteran beberapa waktu lalu, tergambar sebuah kondisi tertutupnya (eksklusif) lembaga tinggi mahasiswa di tingkat universitas, yaitu Pemerintahan Mahasiswa (Pema) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM). Banyak mahasiswa yang tidak mengetahui apa sebenarnya tugas dan fungsi Pema Unsyiah, kawan diskusi saya di Fakultas Kedokteran tersebut bahkan menanyakan kepada saya apa bedanya ada atau tidak adanya Pema. Ini membuktikan bahwa ketidaktahuan mahasiswa terhadap lembaga kampus banyak terjadi di Unsyiah, mahasiswa tak pernah mendapatkan pencerahann tentang seluk beluk kehidupan politik kampus, dan bahkan mahasiswa tak pernah tahu tugas dan fungsi Pema. Pema menutup diri dengan mahasiswa yang notabene adalah rakyatnya, bukan orang lain. Ketertutupan ini suatu hal yang amat sangat kita sayangkan, karena seperti diatas bahwa Pema adalah miliknya mahasiswa Unsyiah bukan milik sekelompok mahasiswa yang telah memenangkan pemilihan Presiden Mahasiswa pada enam bulan yang lalu.
Jika kita simpulkan dari tulisan ini, ada beberapa hal yang menjadi poin evalusi terhadap enam bulan pemerintahan mahasiswa unsyiah di bawah kepemimpinan Presiden Mahasiswa Mujiburrahman, antara lain, (1) Pema Unsyiah harus memberikan perhatian utama kepada mahasiswa Unsyiah, bukan kepada kelompok luar luar kampus, Pema Unsyiah harus progresif dalam mengadvokasi kepentingan mahasiswa Unsyiah bukannya kepentingan kelompok luar kampus yang sangat rentan dengan intrik politik. (2) Pema Unsyiah harus membuka dirinya terhadap semua mahasiswa Unsyiah, transaparansi terhadap semua kegiatan yang dilakukan oleh pema Unsyiah sangat dibutuhkan agar semua mahasiswa merasakan dampak akan adanya pema unsyiah, dengan demikian mahasiswa juga mengetahui seluk beluk kehidupan perpolitikan kampus. (3) mengukur kinerja Pema bukan pada berapa kegiatan (yang menghabiskan anggaran banyak) yang telah dilaksanakan, tetapi mengukur kinerja Pema Unsyiah pada seberapa besar dampak positif yang dirasakan oleh mahasiswa Unsyiah terhadap apa yang telah dilakukan oleh Pema.
Dengan sama-sama kita jaga dan kita kawal Pemerintahan Mahasiswa Unsyiah, harapannya agar enam bulan yang akan datang Pema bisa lebih memihak mahasiswa dan memperhatikan mahasiswa Unsyiah, bukannya sibuk melepaskan ayam sayur dan memberikan obat kuat kepada Pemerintah Aceh sementara mahasiswa Unsyiah menderita seperti anak ayam tanpa induk. Yang terakhir ingin saya katakan untuk kesekian kalinya adalah Pemerintah Mahasiswa (Pema) dan Presiden Mahasiswa (Presma) Mujiburrahman adalah milik 25.000 mahasiswa Unsyiah, bukan miliknya kelompok manusia yang mempunyai kepentingan politik dan kekuasaan di luar kampus kita, kampus yang katanya Jantoeng hate rakyat aceh. Semoga.
*Muhajir Pemulung : Mahasiswa Fakultas Hukum Unsyiah, Bergiat di Mapala Hukum Unsyiah.
1 komentar:
boleh jugaa kritisinyaa
Poskan Komentar