Kampus itu begitu ceria dimata, temboknya berwarna supak, kantinnya masih diisi tawa Yahnu dan celotehan si Bulek dari Tungkop, ketika kita sama tinggi dan sama rendah memasukinya. Selepas ritual tua yang sekarang haram dilaksanakan, kau begitu anggun melangkah melewati separkiran kereta mahasiswa tua. Aku masih culun, seculun matamu menatap sebaris dua baris teori hukum dasar yang kita pelajari. Aku masih malu, semalu para perempuan muda melewati barisan koboy tua dibawah pintu kantin.
Sehari dua hari kita mulai berubah. Kita lahap semua buku, kita kupas semua pikiran, sebaris dua baris para pembangkang mulai berjejer dihalaman otak kita. Kau begitu anggun ketika memberiku sebuah tanya, kenapa ada penindasan, kenapa ada keserakahan, kenapa begini kenapa begitu. Kau begitu cerdas berteori ria dibawah pohon tua yang sekarang menaungi mobil-mobil mewah anak bangsawan kota ini. Dan aku hanya bisa berkata, dulu nenekku sering menceritakan kepahlawanan Cut Nyak Dhien dan kakekku sering membawaku ke Pasie Kareung tempat serdadu Soekarno menumpahkan darah rakyat Aceh, Pulot Cot Jeumpa kataku.
Tak ada yang kurindukan selain bisa berdebat denganmu, ada ribuan topik yang menanti untuk dipermasalahkan, padahal kadang yang kita bincangkan tak ada masalah sedikitpun dinyata adanya. Sebagai perempuan kau melebihi yang diinginkan orang, tapi aku cuma ingin idemu yang cemerlang. Sebagai perempuan, kau pun malas turun ke jalan seperti layaknya mahasiswa ideal yang hidup didunia gerakan, tapi kata bijakmu tak pernah malas mencumbu pikirku, ketika amarah ini ke ubun melihat raja negeri berpesta. Kau seperti Gorgo, permaisuri Leonidas yang membantai dewa Xerxes Persia.
Dulu, kita punya mimpi. Sebaris kesuksesan telah kita perdebatkan dimeja kantin, kantin laknat yang menghilangkan penat. Dan sekarang, karena mimpi itulah kita jadi berseberangan. Kata bijakmu tak lagi bisa mendamaikan hati ini, aku sudah berbatu, keras. Dulu, aku punya cita menjadi tauladan bagi warga kampungku, tapi sekarang aku sadar bahwa tauladan harus dibangun dengan melawan karena hidup ini laksana perang.
Kampus itu jadi muda sekarang, tapi aku tak lagi disana. Kantinnya juga begitu, Yahnu sudah berpindah ke kampungnya, dan warna-warni bergantung ria ditemboknya. Tak ada lagi tawa gila manusia-manusia supak lagi dekil memarkir baju lusuhnya di kantin laknat itu. Tak ada lagi selintingan gitar dengan teriakan khas Iwan Fals, syair dan sajak kesukaanku. Dan yang harus kau tau perempuanku, tembok aturannya terlalu tinggi untuk kulompati, ingin kulobangi tapi tak cukup lembar rupiah dikantongku dan aku tak mau dan tak akan pernah melobanginya.
Rinduku tergores di celoteh ini, celoteh yang kususun selepas menonton manusia benua biru saling kejar mengejar bola, celoteh yang dingin sedingin kota dicumbu hujan, petir menghias dan jalanan berlumur lumpur. Dan sekarang, aku tahu kau sedang bermimpi. Mimpi yang kau susun dulu, dulu sangat sebelum amarah menyegatku. Tapi sekarang aku tak lagi bisa bermimpi, aku ingin nyata, nyata dunia dan akhirat.
Perempuanku..
Aku menyanyagimu. seperti hujan membasahi kota ini. Seperti petir menghiasi malam puncak Seulawah. Malamku adalah malammu, mimpimu biar jadi mimpimu saja. Karena nyata ini terlalu pahit dan indah untuk kuimpikan dan kuhilangkan. Biar kuhadapi, walau kau tak disini.
[Muhajir Pemulung]
2 komentar:
nice bro,,,
perempuanku,,,
adalah mahkotaku, menghiasi dunia dengan senym dan tawa,melindungi dan memluk di saat sedih...
menghancurkan dunia ketika ia mulai "membuka bajunya"
Okey..
tahnks you, memanglah bang gigon ne,, haha
Poskan Komentar