Ini cerita yang baru saja kami alami, cerita tentang penjajah yang sedang menhancurkan masa depan rakyat Lhoong dan sedang merampok kekayaan alam Aceh atas nama investasi. Inilah cerita yang terjadi dalam ruang serba guna DPRA dalam pertemuan dengar pendapat antara masyarakat Lhoong, Managemen PT LSM, Gubernur Irwandi dan juga anggota pansus DPRA serta para kepala dinas yang terkait dalam proses perampokan yang dilakukan oleh PT LSM di Lhoong, Senin, 24 Mei 2010.
Ada fenomena menarik, geli, serta menjijikkan ketika Direktur PT LSM, Jerry Patras, memohon dengan iba kepada semua pihak untuk tidak menutup PT LSM, "kami ini perusahaan investasi tambang yang baru, ibarat anak-anak kami ini memang telah membandel, tapi kan namanya anak-anak tidak mungkin kita pukul dengan balok, paling keras anak-anak pasti kita cubit, dan ibarat anak-anak kami butuh bimbingan dari bapak-bapak semua". Hmm.. inilah yang keluar dari mulut Jerry Patras, Jerry yang berubah 180 derajat mejadi penjilat gubernur dan juga anggota DPRA, Jerry yang berubah menjadi sedikit tebal muka ketika tanpa malu mengutarakan kata-kata penjilat, inilah lakon para penjajah, sama lakonnya dengan Irwandi yang tanpa malu juga berani mengatakan kepada publik bahwa Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar hanya mendapatkan 25% persen dari hasil yang didapatkan oleh proses ekploitasi yag dilakukan oleh PT LSM di Lhoong.
Dalam pertemuan yang tak seberapa temu itu juga Jerry Patras dengan bangganya mengatakan kepada forum bahwa akan membawa warga Lhoong ke tanah suci, akan membangun pabrik, akan memberikan beasiswa, akan memberikan dana pembangunan sosial budaya, dan akan-akan beribu akan lainnya, beribu bualan kembali keluar dari moncong Jerry Patras yang tak seberapa itu.
Selain itu, ada lagi kisah menarik tentang guberur kita Irwandi "Panglima Tibang Publo Nanggro", tentang Irwandi yang tersenyum dan tertawa tanpa salah ketika mengatakan bahwa kita tak mungkin menutup perusahaan yang telah menanamkan investasi di Aceh dengan alasan akan membuat para investor lain enggan menanamkan sahamnya di Aceh, Irwandi juga dengan tanpa salahnya mengatakan bahwa harga tanah kalau bisa jangan terlalu mahal, "kalau terlalu mahal nanti investasi akan lari ke Vietnam dan Kamboja, karena disana harga tanah sangat murah. Kita sekarang sedang bersaing dengan mereka untuk menggaet investor". Tak hanya itu, kebanggan Irwandi terhadap Alvian, pemilik saham dan juga Komisaris Utama PT LSM juga diungkapkan dalam forum yang sebenarnya tak bisa dikatakan forum itu. "Dulu ketika Alvian mengajukan permohonan kepada saya, saya katakan bijih besi itu milik siapa. Dia [alvian] jawab bahwa tanah itu miliknya Peerintah Aceh, maka saya tanyakan lagi berapa keuntungan kepada Pemerintah Aceh, dia bilang keuntungannya 10%, maka setelah saya tawar keuntungan pemerintah Aceh menjadi 25%, Hehehe.. ". Irwandipun tertawa dengan lahapnya, seakan 25% itu merupakan keuntungan yang sangat besar bagi Pemerintah Aceh.
Tak tahulah dia bahwa dia telah menjual hasil alam negeri ini kepada Alvian, tak tahulah dia bahwa tak ada bedanya dia dengan Jawakarta yang dulu dia kowar-kowar telah menjual hasil alam Aceh. Dia lah Irwandi, jameun usee Jawa jinoe peutamoeng China, hana beda, penjajah mandumnyan.
Pertemuan dalam ruang dewan tersebut hanya berlaku layaknya seremonial para komprador negeri ini, ada lakon lieh punggoeng Irwandi yang dilakukan Jerry Patras, ada lakon Irwandi yang tanpa malu telah menjual negeri, ada juga lakon kepala Bapedalda Aceh, Husaini Syamaun yang tanpa malu menyatakan bahwa proses eksploitasi yang dilakukan oleh PT LSM tidak menyalahi aturan walau sebenarnya perusahaan penjajah tersebut tanpa dilengkapi dengan Instalasi Pembuangan Air Limbah [IPAL]. Lakon-lakon inilah yang dinampakkan, yang berdiri diatas kecemasan warga Lhoong yang sedang terancam bencana jika perusahaan tersebut terus beroperasi.
Komite Masyarakat Lhong [KML] tetap menuntut agar PT LSM ditutup, tanpa ada nilai tawar. Sedari dulu masyarakat Lhoong menyatakan bahwa masalah lingkungan lebih penting daripada harga tanah yang 25.000 Rupiah, masa depan lebih penting daripada kompensasi yang menjadi tujuan kaum-kaum pragmatis seperti anak-anak Himpunan Mahasiswa Aceh Besar [HIMAB], lebih baik kami menggarap sawah dan kebun kami dengan damai daripada harus menjual kampung kami kepada keserakahan Jerry Patras, Alvian dan juga para komprador seperti Irwandi dan juga pejabat lainnya.
Pertanyaan yang dari dulu diajukan oleh masyarakat Lhoong dan sampai sekarang belum terjawab adalah siapa yang berani bertanggung jawab jika seandainya kampung kami rusak karena eksploitasi tersebut. Tak ada satupun yang berani menjawab, mulai dari Irwandi sampai kepada Camat Lhoong bahkan kepala Bapedalda Husaini Syamaun yang katanya ahli lingkungan sekalipun. Tak ada dan tak akan pernah ada, karena apa yang dirasakan rakyat itu lebih jujur daripada apa yang keluar dari mulut para pembuat Amdal.
Kami merasa dan melihat serta berpikir bahwa tak ada satupun pertambangan di Indonesia ini yang tidak merusak lingkungan dan juga mensejahterakan rakyat, tak ada dan tak ada. Yang ada beribu pertambangan yang mengeruk perut bumi hingga koyak, meninggalkan kehancuran bagi masyarakat dan juga membawa semua kekayaan yang telah dikeruknya entah kemana. Tinggallah tanah kita seperti bocah yang berkudis, berkurap, tak ada yang peduli. Pedulikah Irwandi dan Bukhari Daud akan hal ini ?
Semoga ini mejadi pelajaran untuk kesekian kalinya bahwa kedaulatan dan kesejahteraan itu masih sangat jauh dai harapan, jauh sejauh Jerry Patras dan Alvian merencanakan kehancuran Lhoong. Maka, oleh karena itu kita bulatkan tekad perjuangan TUTUP PT LSM dan Tolak Tambang di Aceh..!!
Mungkin perlu kita renungkan dan pikirkan kata-kata Chico Mendez di pedalaman hutan Amzone, Acre Brazil puluhan tahun silam, Membangun Bukan Dengan Merusak.. !!
Saleum..
Muhajir
Juru Bicara KML.
0 komentar:
Poskan Komentar