Kaki Paro kaki Geuruetee, itulah kau Lhoong. tanah yang duduk diantara dua paku bumi, tanah yang sedang dilanda nestapa, tanah yang sedang dirundung malang dibawah ancaman keserakahan kapitalisme. Komprador sedang bermain ditanahmu, ada kekayaan yang melimpah yang melenakan hati dan mata mereka ditanahmu, hingga kami yang damai ditanahmu terusik oleh keserakahan atas nama pembangunan itu.
Dari dulu kau dirundung malang, Pulot Cot Jeumpa puluhan tahun lalu telah membuka mata dunia bahwa kau tanah pembantaian serdadu pemakan nasionalis buta. Dri dulu kau incar nestapa, dari jaman raja yang konon tidak mau menginjakkan kakinya ditanahmu dengan sebuah sebab nama yang tak dikenal dalam kamus nanggroe.
Beberapa detik lalu di kedai kopi kuta, saudaraku bercerita tentang durian yang ada ditanahmu, bertanya tentang Geurutee yang memisahkan kau dengan negeri Daya. Aku begitu bernafsu menceritakan apa yang mereka tanya, kujawab dengan apa yang kulihat, kuceritakanlah Lamsujen yang sangar tapi indah, Genteut yang seram tapi sedang melawan kejahatan tambang. Geureutee, aku tak menceritakannya, karena semua mereka tau dan pernah menginjakkan kaki disana, menikmati senja dengan secangkir kopi Lamno yang tiada duanya. Ingin kutambahkan, serdadu negara ini pernah tumbang dihantam petir beberapa tahun lalu di puncak Gerutee ketika tanah ini dilanda perang, ingin juga kutambahkan tentang prajurit Dharma Jaya yang lari tunggang tanggung dari puncak Gerutee melihat kuasa tuhan membangunkan ombak samudera hindia di penghujung 2004 silam. Tapi aku tak kuasa menceritakannya, karena surau sebelah sedang memekikkan asma rabbi magrib tadi. Fajar esok, aku ingin berlabuh ditanahmu, tanah yang telah membesarkanku, untuk sebuah cerita perjuangan.
Ah, jika saja bukan demi kau Lhoong, mungkin kupiker 1000 putar untuk membangkang si serakah Jerry dan Alvian. Demimu, tanah yang menyimpan tali pusatku 23 tahun lalu, demi anak cucu dan juga demi daulatnya rakyat Aceh atas tanah yang kaya ini. Kami tinggalkan bangku kuliah tempat bergumulnya para cerdik pandai yang menghamba pada raja, kulewati tembok kampus yang sekarang semakin tinggi dengan biaya yang tak terjangkau bagi bocah muda di kaki Glee Pisang, kukuatkan ikat pinggang ini demi menatap senja dibalik rindang pasie Saney, pantai yang memberiku kesenangan untuk para bocah bertelanjang dada.
Lhoong Setia Mining, corporate ini merampok namamu dan menggali serta membawa ke negri China kekayaanmu, sungguh biadab. Lhoong Setia Mining, ini corporate ketiga yang datang ketanahmu, dengan selembar hak konsesi yang ia dapat dari jamuan makan para raja di Jantho dan Kutaradja, Bukhari Daud dan Irwandi Yusuf. Sebelumnya, setau ingatanku, ada Perusahaan Daerah Peumakmu Aceh [PDPA] dan PT Boswa yang menjamah tanahmu belasan tahun lalu. Aku tak lagi ingat kenapa mereka pergi, tapi yang kutau ada secuil perlawan disana, dari rakyatmu Lhoong, yang setia dengan tanah dan keuneubah endatunya.
Sekarang, Lhoong Setia Mining datang, dengan membawa Jerry si serdadu dan Alvian si mafia. Setelah berkelana didunia hitam dan merah darah, mereka datang seakan malaikat yang membawa kenikmatan tuhan dengan mimpi-mimpi pembangunan yang mereka berikan. Dengan angkuh mereka berkata kalau kita sedang lapar dan mereka datang membawa sepiring nasi untuk kita, padahal yang mereka bawa tak lebih dari seonggok daging manusia berlumur darah yang mereka bantai ketika nanggroe ini sedang dilanda perang. Ah, sungguh hina jika penghuni tanahmu sekarang berani menerima daging busuk itu, dan sampai kapanpun, sampai aku bersua dengan tali pusatku diperut bumi sana, akan tetap kulawan mereka yang menjarah tanahmu, mereka yang mengorek tanahmu sampai keperut bumi. Karena disini aku besar, dan disini aku diajarkan bagaimana caranya membangkang untuk sebuah kedaulatan.
Lhoong, kau kurindu sampai mati para serdadu, dari tanah yang basah ini aku berkata, demimu yang telah tuhan titipkan keindahan pada kami, demimu yang telah tuhan titipkan kedamaian. Lhoong, dari pembantaian Pulot Jeumpa puluhan tahun lalu, sampai penjajahan Lhoong Setia Mining yang direstui raja negeri. Aku rindu durianmu yang menyengat, aku rindu secangkir kopi Lamno di puncak Geuruetee dengan samudera Hindia yang indah mempesona. Ini tanah kami, tanah yang menyimpan tali pusat kami dan jasad orang tua kami.
Saleum Kedamaian, dari Lhoong Mereuhom Daya untuk tanah Aceh.
0 komentar:
Poskan Komentar