Kawan-kawan, saudaraku semuanya, yang masih menyandang gelar mahasiswa atau yang masih tetap teguh untuk berada di jalanan. Catatan ini aku tulis di malam remang, di sunyi senyap, di kampung aku yang tak seberapa bisa kulukiskan dengan kata-kata buruknya. Catatan ini aku tulis untuk aku, untuk kalian, untuk kita semua yang sampai hari ini masih yakin bawah perubahan itu pasti akan datang, untuk kampung kita, untuk nanggroe kita, untuk Aceh dan untuk dunia.
Tahun ini 2011, begitu tertulis dalam kamus masehi. Banyak orang di Aceh menyebutnya dengan tahunnya politik, tahunnya merebut kekuasaan. Kadang kita hanya teringat pada 2011 karena ada hubunggannya dengan kekuasaan, jika tahun lainnya maka tak ada arti, karena tak ada kekuasaan yang menyertai tahun tersebut.
Kawan, saudaraku semuanya, yang masih punya semangat perlawanan terhadap tirani dan penindasan. Kita selalu berdiskusi dari satu topik ke topik lainnya, dari satu meja kopi ke meja kopi lainnya, dengan kopi yang seakan tak akan peranah habis, asap mengepul dan tentunya pita suara yang tak pernah putus. Dulu kita memperbincangkan apa tujuan kita turun ke jalan, berteriak seperti Soekarno di atas podium, semua menggebu-gebu, seakan dunia ini ada di tangan kita sebentar lagi. Kadang kita sepakat bahwa untuk merubah kampung kita ini, kita harus rebut kekuasaan yang sekarang dipegang oleh para pengkhianat perjuangan, kita sadar bahwa kekuasaan adalah cara yang paling ampuh untuk merubah kampung ini. Kampung ini hancur karena kekuasaan salah digunakan, maka kekuasaan itu harus kita pegang dan kita benarkan di jalan yang benar, begitu sintesis yang telah kita bangun bersama.
Disini, di sudut kampungku yang sedang dijajah oleh modal ini, kudapati kabar bahwa kalian telah mengencangkan ikat pinggang untuk bertarung di gelanggang yang memperebutkan kekuasaan. Kabar yang membuat aku tersenyum, tersenyum karena aku senang kalian masih bertarung, bertarung untuk banyak cita-cita yang dulu kita perbincangkan di warung kopi dan forum-forum diskusi sebelum dan sesudah menggertak jalanan. Kabar yang datang ke aku juga menyatakan betapa terpencarnya kalian, mulai dari kekuatan politik A sampai kekuatan politik Z, ada yang berada di kepala dan ada yang berada di pantat, ada yang berada di lingkaran utama dan ada juga yang berada di lingkaran terluar.
Di luar kita banyak yang mempertanyakan kenapa kalian masuk ke dalam gelanggang pertarungan. Mereka mencemooh kalian, dengan menyatakan bahwa kalian telah berselingkuh dengan kekuasaan. Aku tak mau menjawabnya, kalau di tanya sama aku, pasti aku suruh mereka untuk belajar kembali apa itu gerakan. Dan kuharap kalian tak terpengaruh dengan cemoohan itu, mereka orang dungu yang harus kita bersihkan kedunguannya.
Sedikit, walau tak banyak, aku bisa memetakan kemana kalian berlabuh dalam gelanggang pertarungan itu. Aku selalu berpikir positif terhadap kalian, bahwa apa yang kalian lakukan itu merupakan salah satu jalan dan momentum untuk merubah negeri ini. Aku selalu berdoa kalian tetap dengan semangat nomor satu sama seperti semangat ketika kita dulu menghentak-hentakkan kaki di jalanan kota tua ini. Apa yang kalian lakukan sekarang adalah pilihan politik, pilihan itu lahir dari proses berpikir yang matang. Memilihlah dengan dasar pikiran, pilihlah seperti apa yang dikatakan oleh otak kalian, bukan apa yang dikatakan oleh nafsu apalagi karena setumpuk materi.
Kawan, saudaraku semuanya, yang dulu sama-sama berteriak di jalan, walau berbeda bendera dan berbeda pikiran, tapi musuh kita satu, yaitu ketidakadilan dan keangkuhan yang dipertontonkan oleh penguasa negeri ini. Sekarang jalan kita berbeda lagi di gelanggang ini, ada yang berdiri di luar gelanggang ada yang masuk mewarnai gelanggang yang sudah berselemak keserakahan. Berada di luar gelanggang bukan berarti diam atau apatis, tapi itu adalah jalan yang masih belum habis untuk dikecup manis. Berada di dalam gelanggang bukan berarti berkhianat terhadap perjuangan dulu, tapi itu adalah salah satu cara untuk menuju perubahan.
Maka, oleh karena itu, janganlah saling tikam dan saling hujat. Janganlah saling menerkam dan saling menghambat. Bertarunglah dengan jantan, janganlah dibelakang kita menikam. Mari kita telanjang, katakan pada semua kita bahwa kita ada di sudut ini, atau kita ada di sudut itu. Jangan menghujat kawan dengan mengatakan dia berselamak materi di sudut sana, padahal kita sendiri juga sedang mengorek materi di sudut ini. Jika sampai pada hari ini, pada pertarungan di gelanggang ini, kita masih membicarakan tentang materi, maka sungguh berarti dari dulu yang ada di pikiran kita adalah materi, bukan perubahan!
Kawan, catatan ini aku tulis dengan satu harap dan satu penjelasan, walau jalan kita berbeda tapi kita punya tujuan yang sama. Semua kita punya pilihan, pilihan yang lahir dari pikiran. Pikiran yang sudah matang, matang seperti ombak yang menghantam karang.
Kawan dan saudaraku semuanya, melalui catatan ini aku juga ingin menyatakan dari lubuk selangkangan yang paling dalam, bahwa aku akan tetap diluar gelanggang, itu pilihanku. Pilihan yang sama betulnya dengan pilihan kalian. Pilihan-pilihan yang tak pernah salah menurut aku, begitu juga menurut kalian. Kampung aku masih terlalu indah untuk aku tinggalkan, ada beribu lika liku disini yang harus aku luruskan.
Kawan, untuk yang terakhir aku katakan, meja kopi masih merindukan celotehan kita. Celoteh tentang masa depan, celoteh tentang cinta dan selangkangan, dan tak lupa pula celoteh tentang jalan perjuangan yang tak jua ada ujungnya. Kita begitu berbeda jalan, tapi tujuan kita sama. Cuma itu, tak lebih!
Salam, kawan dan saudara kalian, Muhajir.
1 komentar:
jir, ada kado buatmu
http://ceritabee.wordpress.com/2011/02/22/bingkisan-pilihan/
Poskan Komentar