2 Feb 2011

Mari Mandi dan Gosok Gigi!

Mendung tersenyum diatas kepala kita, laut masih terus bergelora, ombak masih terus bergerak, tanpa bosan dan tak juga angkuh. Begitulah terus realita disini berjalan. Kau katakan pada mereka kalau ini Lampulo. Bukan, ini bukan Lampulo hai perempuan, ini adalah Gampong Jawa, gampong yang aku juga tak tahu kenapa dikatakan Gampong Jawa, mungkin banyak orang Jawa disini, tapi yang kulihat gampung ini identik dengan sampah. Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA).

Pulau Aceh dan Sabang tampak remang, tertutup sedikit kabut yang baru saja diturunkan langit. Sesekali kau tersenyum, kadang tak lupa juga kau tertawa terbahak. Asap rokok kita terus mengepul, seakan inign menandingi kabut yang menutupi kedua pulau indah di depan kita, pulau yang sangat ingin kujamah bersamamu perempuan.


Katamu, hidup ini seakan tiada guna, kita mau jadi apa, dan lebih baik sekarang kita mati. Tapi, ketika kutawarkan diriku untuk membunuhmu sekarang kau menolaknya, kau bilang tak mau mati sesadis itu, dan kau mau mati tanpa kesakitan. Memangnya mati itu sakit ya? apakah ada sebuah penelitian ilmiah yang mengukur betapa sakitnya mati? atau adakah orang yang telah mati yang kemudian menulis buku menceritakan tentang kematian? aku tak mau mati, yang aku mau adalah kamu, perempuan!

Sepasang suami istri lewat, menyusuri pasir hitam dengan motor mereka, dengan dua anak kecil yang lucu-lucu. Betapa indahnya mereka, kataku. Di belakang kita,seorang ibu duduk termenung menghadap Goh Leumo yang berdiri berdiri menantang, berharap senja tersenyum padanya walau kita tahu hari ini mendung, tanpa lembayung senja di ufuk barat. Dia sedang galau katamu, aku teringat cerita-cerita dalam syair Iwan Fals, seorang istri yang menunggu suaminya pulang melaut, berharap seikat ikan dia bawa pulang, indahnya kehidupan nelayan.

Kau mau jadi apa? aku mau jadi nelayan, mau  jadi petani, aku mau kuliah, aku mau belajar antropologi, kau mau pulang ke Aceh. Kau akan jadi orang besar, orang yang selalu dibutuhkan banyak orang, orang yang jadi orang. Orang, bukan manusia.

Aku menggagumi, seperti para pendaki di kota ini yang tak pernah bosan pada Goh Leumo. Kau masih saja tersenyum, kubakar lagi rokokku, kutambahkan untukmu, asap mengepul lagi tersenyum pada roti serat yang tak mau kau buka.

Aku inign ke Hadralmaut, pastinya kau juga mau ke tempatmu perempuan. Ini tentang masa depan, tentang senyuman dan juga tentang harapan. Jangan kau tinggalkan aku, perempuan!

Mari kita pulang,orang tuamu menunggu. Mari mandi dan gosok gigi!

Gampong Jawa, 2 Februari 2011

0 komentar: