Ini cerita tentang sekret Mapala Hukum Unsyiah hari ini, Kamis, 17 Februari 2011. Ada Todak, si anak hilang dari Sibreh, Aceh Rayeuk; Cakeuk Farizi, si anak betty dari pinggiran Sungai Musi Palembang; dan Aris Bileih, si kalem dari pantai barat Aceh, Meulaboh. Di depan sekret, dibawah batang Tanjung yang meluntai, kopi secangkir di atas meja lusuh, dan rokok yang baru saja kami rampok di kios terdekat.
Todak dengan gitarnya, Aris Bileih dengan kekalemannya, dan Cakeuk Farizi dengan tangan yang terus memencet setombol dua tombol di telepon genggamnya.
Disebelah, ada mahasiswa culun yang sibuk memukul pingpong tenis meja, ada dua orang cewek terus mengamati mereka, entah pacarnya atau wanita pengagum mereka, aku tak tau. Todak bertanya tentang idealisme, aku jawab 'idealisme itu adalah sebuah kata ideal yang kemudian ditambahkan 'is' diujungnya, jadilah ia idealisme'. Sebuah jawaban yang tak penting. Oiya, si Ceri baru saja pergi dari sini, tapi tak apa, baru saja aku rampok uangnya 5.000, ya cukup untuk ngopi nanti sore di Dekmi aku rasa.
Ah, hidup semakin pahit, sepahit manisnya bibir perempuan yang dulu pernah kulihat di kalender tahun 2010 di ruang musalla kampus.
Kampus ini memang semakin indah, tapi aku kesini bukan untuk kampus yang indah melainkan untuk sekkret yang kumuh ini. Kumuh hingga membuat kami tetap betah disini, betah untuk download film, betah untuk tertawa dan betah untuk memahat mimpi.
Jam 16.14, towa di mesjid depan berteriak, mengumandangkan ayat-ayat tuhan yang aku tak tau artinya, maklum, tak sempat aku belajar ilmu nahwu dan sharaf hingga selesai dulu di dayah. Selagi azan, cakeuk marah-marah karena rokok habis. Yah, apa tak habis, rokok cuma beli setengah bungkus dan dinikmati oleh para perokok hyper.
**
Di depanku, bendera Atmaka terus melambai, seakan ingin mengatakan kepada kami bawah hidup ini masih terus berjalan, bumi ini masih terus berputar. Jangan meratapi nasib, mari melangkah dan melawan!
Tak lama kemudian bang Wan Pe Ka datang, Cakeuk langsung merayu untuk sebatang rokok. Bang Pe Ka tanya, 'konek ku?', aku mengangguk, malas kujawab, rokok masih ada dibibirku sekali dua kali tarik lagi. Asap mengepul, Dendi Mangoeh datang, baru keluar kuliah katanya. Melirik aku dan tersenyum.
Di sana, di seberang lautan, aku masih merindu perempuan jalanan, yang hinggap dalam kesunyian malam. Ah, rindu-rindu pukimak ini namanya, rindu yang membuat pikirku melayang ke masa lalu, masa dimana kopi dan mimpi masih bercumbu mesra.
Hufft.. sudah cukup untuk hari ini, disini sudah semakin ramai, malas aku lihat muka-muka culun yang diperkosa waktu ini. Selamat jalan, mari kembali berdendang!
Muhajir Pemulung, 049. USK
0 komentar:
Poskan Komentar