Novel ini aku beli sekitar seminggu yang lalu di Jogja, sebelumnya aku tau novel ini dari berita sebuah media online yang ada di Aceh. Merasa baru dan aku yakin di Banda Aceh buku ini belum ada makanya aku beli.
Novel yang menceritakan tentang legenda Putroe Neng dalam sejarah kerajaan di Aceh, sebelum islam datang ke Aceh. Putroe Neng adalah seorang putri dari Cina bernama Nian Nio, melakukan perjalanan dari negeri bambu tersebut dengan sebuah cita-cita, membuat dinasti baru di luar Cina. Bersama orang tuanya, Maharani Liang Khie dan juga ribuan prajurit perempuan yang cantik jelita, Putroe Neng berhasil menaklukkan satu persatu kerajaan kecil yang ada di Pulau Ruja. Sebelum akhirnya meraka kalah dalam peperangan melawan kerajaan Indra Purba yang mendapat bantuan dari kerajaan islam Pereulak dan juga kerajaan Lingga.
Dengan kemampuan ilmu perang yang tinggi, Putroe Neng dimanfaatkan oleh Meurah Joehan (putra mahkota Lingga dan juga menantu Raja Indra Purba, Indra Sakti) untuk membangun kerajaan besar yang bernama Darut Donya. Putroe Neng mau bekerja sama dengan syarat Meurah Joehan harus mau menikahinya. Demi kepentingan negara, Meurah Joehan menyanggupinya dan terjadilah pernikahan tersebut.
Banyak sisi yang menjadi inti dari novel ini, diantara bagaimana teknik peperangan dan juga kisah tentang kecantikan Putroe Neng yang membuat para bangsawan kerajaan dan juga orang-orang hebat di Aceh pada masa itu bertekuk lutut dihadapannya. Untuk sisi yang kedua ini, ceritanya begitu menakjubkan. Kecantikan Putroe Neng sebenarnya mengandung racun yang sangat berbisa, seperti kelopak mawar berduri yang menusuk kumbang.
Mulai dari Meurah Joehan yang merupakan suami pertamanya hingga suami yang ke-99 semua harus merenggang nyawa setelah melewati malam pertama dengan Putroe Neng, tubuh membiru dan kejang-kejang. Ternyata, dalam kemaluan Putroe Neng telah ditanamkan racun pada masa kecilnya oleh Khie Nai-Nai, Bibi Putroe Neng. Racun yang di masukkan oleh Khie Nai-Nai dalam kemaluan Putroe Neng itu untuk menjaga Putroe Neng dari keberingasan para lelaki yang sering memperkosa para perempuan pada waktu di daratan Cina ketika perang. Akan tetapi, racun tersebut juga tidak mengenal yang mana pemerkosa dan yang mana suami, hingga membuat 99 suami Putroe Neng harus terkapar setelah menancapkan "Tungkat Ali" nya ke liang kenikmatan Putroe Neng.
Ending dari cerita ini adalah ketika Syech Syiah Hudam, ulama besar dari Pereulak dan juga guru dari Meurah Joehan dan Putroe Neng, menikahi Putroe Neng dan berhasil mengeluarkan racun tersebut dari kemaluan Putroe Neng. Syech Syiah Hudam lah yang menjadi suami ke-100 dari Putroe Neng dan juga berhasil menaklukkan kecantikan sekaligus racun Putroe Neng.
Kawan aku di Banda Aceh ada yang menyakatan bahwa inilah novel porno yang menelanjangi kaum bangsawan Aceh. Ada juga kawan aku yang di Jogja yang menyatakan bahwa dia menikmati sisi petualangan ranjang Putroe Neng karena dia memang tidak tau bagaimana detailnya sejarah Aceh.
Kalau bagiku, novel keren! Tak rugi jauh-jauh datang ke Jogja dan membeli novel ini. Selamat membaca!

1 komentar:
Jier, sebab aku sedang hana peng, sang jeut pinjam nyan Putroe Neng. hawa keuneuk baca nyoe. hehehe... saleum!
Poskan Komentar