Terima kasih untuk God Bless, legenda rock Indonesia ini baru saja menghabiskan konser-nya di Blang Padang, Banda Aceh, Minggu malam, 13 November 2011. Blang Padang, lapangan luas yang dulu pernah dipersengketakan antara Kodam Iskandar Muda dan Pemkot Banda Aceh ini, menjadi tempat para pecinta musik Rock Aceh melampiaskan kerinduan akan musik-musik berkualitas di Aceh.
Foto: Tepank Fajriman Teuku.
Aku tau God Bless datang seminggu yang lalu ketika baru pulang dari Lhoong menuju Banda Aceh, di Simpang Tiga Stui, ada baliho yang bertuliskan Legenda Rock Moment, tapi tidak ada nama God Bless disitu. Ada kawan yang nyelutuk, "Aku dengar kabarnya itu konser God Bless, Jir". Wow, God Bless, aku langsung bertanya-tanya, apakah itu betul?
Hingga dua malam kemudian, aku lihat tweet seorang wartawan di Banda Aceh, yang menuliskan tentang kedatangan Iyek dan kawan-kawan ke Banda Aceh. Langsung aku update status Facebook tentang berita ini, aku sms kawan-kawan yang menurutku akan tersenyum senang mendengar berita ini. God Bless datang ke Aceh! Mendengar berita ini saja hidup jadi semangat, apalagi sampai berada di shaf terdepan dalam konser nanti.
Kemarin malam, aku pergi dengan Idrus dan Jojo Jalang, setelah sebelumnya kami berada di tempat Idrus di Lamtemen, Kanot Bu. Dari sebelum pergi Idrus sudah bercerita tentang Yah Cut, seorang penjual kopi di warung Treas jalan Inong Balee, Darussalam. Yah Cut ini seorang penggila lagu-lagu lawas, dan mayoritasnya ada God Bless. Jika hendak ingin mendengar lagu-lagu God Bless dari album pertama sampai yang terbaru, maka datanglah ke warung kopi Yah Cut. Aku bilang sama Idrus kalau aku yakin bahwa Yah Cut pasti sudah berada di depan panggung jauh sebelum acara di mulai. Dan Idrus sama Jojo pun tertawa.
Kami berangkat dari Lamtemen, tapi sayang nya ketika sampai di Blang Padang aku kehilangan mereka. Kutunggu sebentar di depan SMP 17, tapi tak juga nampak batang hidung mereka. Aku hampir mumang, di kantong tak ada uang sepersen pun, bagaimana cara harus masuk? Walau tiket gratis, tapi parkir tidak, dan yang jaganya juga beberapa tentara, walau mereka tak memakai baju loreng. Hampir putus asa, Fauzan pun menelpon, dia sudah di dalam. Tanpa cakap panjang, aku suruh dia ke tempat aku. Dari sakunya keluar uang 2000, dan kami pun masuk.
Sesampai di dalam, MC sudah di atas panggung. Aku temui Diyus Hanafi beserta istri dan anak-anaknya di luar pagar, dia tidak masuk kedalam, karena memanng anak-anak kecil tidak diizinkan masuk, takut terjadi sesuatu. Maklum, ini Rock.
Langsung ke depan panggung, disana sudah ada Hespi, Robi, Eddi dan beberapa kawan-kawan Mapala Hukum Unsyiah. Dan yang tambah bikin aku semangat, bang Fauzi, si bos parkir Fakultas Hukum Unsyiah sudah ada disana. Dia memang tukang parkir di kampus, tapi untuk selera musik, dia masih diatas mahasiswa-mahasiswa yang ada di kampus sekarang.
Foto: Chaideer Mahyuddin/Acehkita.com
Di atas panggung ada band pembuka, namanya kalau tidak salah Nocturno (kalau salah tolong dikoreksi, dan aku mohon maaf), aku tau wajah beberapa anggota mereka, tapi tak kenal orangnya. Mereka bawa satu lagu barat yang aku tak tau judulnya, kemudian Kutidhieng miliknya Liza Aulia, terus sebuah lagu dari Pay, dan yang terakhir Sweet Chield O' Mine-nya Gun 'N Roses. Cukup menjadi pemantik kehangatan untuk sebuah pesta besar.
Tanpa panjang lebar MC bicara, Ian Antono langsung masuk ke panggung, ada yang histeris, disusul kemudian Donny Fatah dengan gaya preman nya masuk dan baru kemudian Ahmad Albar yang akrab dipanggul Iyek. Histeris? Bagi kami yang berada di depan, pasti. Dengan lagu pertamanya Blablala mereka menggetarkan Banda Aceh.Untuk drummer, mereka bawa Sambassy, anggota baru, dan di kibod ada Abadi Soesman.
Setelah lagu pertama, Iyek berteriak untuk Aceh; "Hidup Aceh! Hidup Aceh!". Di depan panggung, aku dan Robi tak canggung untuk menyahut; "Merdeka! Merdeka!" setelah kata Aceh.
Lagu kedua menyusul Kehidupan, Kemudian berturu-turut Menjilat Matahari, Rumah Kita; yang bercerita tentang urbanisasi yang menjadi penyakit pembangunan. Kemudian Prahara dan NATO, dari album terbaru mereka tahun 2009; Godbless 36, dan Bara Timur lagunya Gong 2000. Ketujuh lagu ini sudah cukup bermandikan peluh bagi kami yang berada di depan, semua lagu cadas ini dibawa tanpa istirahat oleh mereka. Bahkan, Hespi berharap Iyek berhenti bernyanyi sebentar dan berbicara. Karena ini juga yang kami tunggu, Iyek bisa berbicara tentang sajak-sajak mereka dan tentang Aceh yang 20 tahun sudah tak disinggahi God Bless. Tapi dia tetap melanjutkan lagunya.
Disaat semua penonton sudah kepanasan, barulah Iyek membawakan Syair Kehidupan; yang syahdu nan romantis itu, semua tangan keatas dan ikut bernyanyi. Ini betul-betul lagu kesukaan aku. Jika ada sebuah penelitian di sekret Mapala Hukum Unsyiah, maka lagu ini pasti masuk dalam lima besar lagu yang paling sering diputar. Abenk Syahputra, senior sekaligus pendiri Mapala kami, termasuk orang yang paling fanatik terhadap God Bless, khususnya lagu ini.
Setelah Syair Kehidupan, ada Panggung Sandiwara, ini juga lagu slow dan cukup untuk membuat semua penonton berteriak menyanyi bersama. Dalam lagu ini, mungkin God Bless ingin mengatakan bahwa hakikat takdir kehidupan bukanlah kehendak bebas, tapi sebuah adegan yang sudah ada plot skenario-nya. Ya, walau banyak yang membantah, lagu ini tetap lah melegenda seiring dengan pertumbuhan musik Rock di Indonesia.
Setelah dua lagu slow tersebut, God Bless kembali ke bentuk semula, memperlihatkan kegarangan mereka sebagai dedengkot Rock di Indonesia, walau umur sudah tak layak lagi dikatakan usia. Lagu berikutnya Anak Adam, Serigala Jalanan, Bis Kota dan yang pemungkas Semut Hitam. Ketika Anak Adam dinyanyikan, aku sama si Eddi sudah loncat pagar dan berlari kedepan panggung. Bersama beberapa kawan-kawan juru foto berjingkrak seakan terhipnotis suara Iyek dan gitarnya Ian Antono.
Setelah Semut Hitam, mereka tak banyak bicara, langsung pamit dan acarapun berakhir. Dan tidak ada permintaan untuk lanjut dari penonton, karena aku yakin penonton sangat puas hingga klimaks menikmati penampilan God Bless.
Walau tak banyak publikasi di media, tapi penonton sampai ribuan malam itu. Aku tak tahu pasti jumlahnya, karena memang tidak aku perhatikan karena sudah lalee sendiri, itu perkiraan dari media berita online yang ada di Aceh.
Pulang dari Blang Padang, kami ngumpul dan berencana untuk ngopi. Dari situ juga aku tau bahwa bang Abenk, khusus datang dari Meulaboh untuk menyaksikan sang Maestro-nya. Sambil ngopi juga cerita-cerita lagi dengan Hespi, dia tau banyak tentang God Bless. Dia juga yang memberitahu aku kalau dulu, ketika God Bless di Lampineung, band Pembukanya adalah Anggun C. Sasmi, Nicky Astria dan juga Power Metal. Ketiganya menurutku rocker yang punya kualitas tinggi dan diatas rata-rata dalam dunia musik Rock Indonesia, tapi ketika itu, mereka masih jadi "anak bawang-nya" God Bless.
Ya, begitulah, God Bless telah datang lagi ke kota ini. Kita tunggu lagi siapa yang akan datang, EdanE sudah sebulan yang lalu, mungkin Power Metal atau Boomerang mau mampir lagi kemari, semoga.
Untuk yang terkakhir, dalam kepuasan, kutulislah status Facebook sepulang dari Blang Padang : Terima kasih God Bless, kalian telah sudahi kehausan kami akan musik berkualitas di tanah ini. Setelah sekian lama kami hampir muntah dengan musik-musik pasaran yang bergentayangan di media-media.
Ulee Kareng, Selasa subuh, 15 November 2011.


1 komentar:
dikit ralat ya,untuk band pembuka nya INVERNO namanya,thanks..artikel nya
Poskan Komentar