Pagi ini, aku merasa menjadi orang yang paling hina setelah menjadi korban dari beberapa pengkhianatan dalam hidup, pengkhianatan dari orang-orang yang telah aku berikan semuanya. Hingga sejak dua malam terakhir ini, ketika harus duduk di depan komputernya Akmal Van Roem di Tikar Pandan, sebuah lagu Scorpions dari album barunya selalu menemani. Ya, Lorelei. Jujur, aku seakan terbius dengan lagu ini.
Di layar Facebook, aku menulis "Terkutuklah semua yang bernama penkhianatan!", hingga ada kawan yang bilang padaku, "Terkutuklah semua pengkhianatan, termasuk pengkhianat cinta!". Oh, tidak men, aku tidak berbicara tentang cinta, karena memang bukan untuk dibicarakan. Hingga datang lagi yang lain, berkomentar, "Don't look back in anger bang," mengutip judul lagunya Oasis.
Hari ini nampaknya tidak hujan, tapi sudah dua hari aku tak pernah menikmati keramaian siang. Seakan puisi Bocah yang dulu pernah aku tulis di Antologi Tsunami Kupi bersama kawan-kawan nyata adanya, bahwa aku memang sudah menjadi seperti bocah yang ada dalam Bocah tersebut. Mari tidur, sudah pagi, siang bukan milik kita lagi, kita orang yang kalah nak.
Kenapa harus ada kekalahan? Bukan, bukan, aku tak sedang bercerita tentang pertandingan. Ini kehidupan, bukan pertandingan. Jika di pertandingan ada kekalahan dan kemenangan, maka di kehidupan ada kenyataan. Ya, aku sepakat jika ini aku katakan kenyataan, ini kenyataan, ya kenyataan, basuh mukamu, bangunlah, ini kenyataan!
Sudah dua hari ini juga betapa inginnya aku melihat kebelakang, setelah jembatan yang aku lewati aku rusak. Ya, aku rusak jembatan itu, hingga memang aku tak akan pernah bisa kembali lagi. Seperti tentara Thariq menyerbu Andalusia yang membakar kapalnya hingga mereka tak bisa lagi kembali ke Damaskus. Kadang aku ingin melihat kebelakang, menoleh, sedikit saja, walau dalam hati ada yang berteriak; jangan!. Tapi jangankan melihat yang diseberang jembatan, merasakan bayangnya aku sudah kegugupan, darah muncrat dari setiap pori-pori kulit. Seorang teman berkata: potong saja spionnya, jangan lagi kau lihat ke belakang.
Yah, nanti sore masuk kelas Bleut sama Mita dan Aris di tempatnya Idrus. Malamnya God Bless ada di Blang Padang, gratis. Besoknya, mungkin aku akan ke Trumon sama Robi dan kawan-kawan Hamas. Ya, semoga aku tak lagi kembali ke jembatan yang aku sendiri menghancurkannya. Lorelei..
Selamat menikmati kenyataan, karena memang kalian layak untuk menikmatinya. Aku telan saja, tidak sanggup kunikmati..
0 komentar:
Poskan Komentar