11 Des 2011

Sondang

Rabu, 7 Desember 2011, di depan istana negara yang megah, dia membakar tubuhnya hingga melepuh. Dalam kondisi kritis dia dibawa ke Rumah Sakit. Sabtu, 10 Desember, nyawa Sondang tak bisa diselamatkan, dia meninggal.

Sondang, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno Jakarta, angkatan 2007. Sehari-hari aktif dalam gerakan mahasiswa di Jakarta. Dia adalah ketua Hammurabi - Himpunan Aksi Mahasiswa Marhaenis untuk Rakyat dan Bangsa Indonesia. Sondang selalu ikut dalam aksi-aksi di jalanan Jakarta. Dan Hammurabi merupakan bagian dari koalisi Sahabat Munir; sebuah komunitas yang dibentuk oleh para aktivis HAM di Jakarta untuk memperjuangkan keadilan terhadap Munir dan korban pelanggaran HAM di Indonesia.

Banyak orang-orang yang kemudian menyamakan aksinya dengan seorang tukang sayur di Tunisia, Bouazizi, yang membakar dirinya sendiri dan menyebabkan api revolusi membakar Tunisia. Bouazizi membakar dirinya setelah petugas menghancurkan lapak jualannya. Mungkin bisa jadi Sondang terinspirasi dari Bouazizi, dan pastinya Sondang menginginkan api revolusi juga membakar Indonesia.

Tapi, banyak juga orang yang menyepelekan aksi Sondang. Bahkan ada yang menhinanya, kalau aksi yang dia lakukan merupakan suatu tindakan yang tak berguna, merusak diri sendiri, dan tidak akan mempunyai efek apa-apa terhadap perubahan Indonesia.


Melihat sepak terjangnya dalam dunia gerakan, aku berpikir Sondang adalah martir. Mungkin dia frustasi melihat kondisi Indonesia yang terus seperti ini tanpa ada perubahan yang berarti. Sondang sudah mengambil langkah berani untuk sebuah perubahan yang dicinta-cikan, sebuah revolusi. Dia berani melakukan hal tersebut tanpa ada pemberitahuan kepada teman-temannya dan media, dengan begitu, tak ada embel-embel politisasi di belakangnya. Walau sampai saat ini istana masih diam dengan kejadian pembakaran di depan istana tersebut.

Sekarang kita menunggu Indonesia menjadi seperti Tunisia, menunggu sebuah revolusi. Apakah yang telah dilakukan Sondang bisa menyadarkan banyak orang, tergantung orang-orang Indonesia melihatnya. Jika orang-orang Indonesia masih belum sadar, maka sia-sialah apa yang dilakukan Sondang. Di dalam kubur, Sondang pasti berharap ada sebuah perubahan, biarlah dia jadi martir, tapi yang penting Indonesia berubah.

Selamat jalan Sobat.. Aku tak mengenalmu secara fisik, tapi bathinku selalu dekat denganmu. Salam untuk semua pejuang yang telah pergi dari negara ini, salam manis untukmu.. :)


0 komentar: